Sunday, November 27, 2005

Cincing: Adaptasi Rok dan Jubah di Assalaam



  

Cincing! Kejadian yang membuat terkejut dan memancing perhatianku. Ini bukan merujuk pada kejadian Ratu Bilkis yang cincing saat masuk pintu kerajaan nabi Sulaiman. Lantai yang ‘kinclong’ sepertinya berair membuat reflek Ratu Bilkis untuk menarik sedikit ujung gaunnya agar tidak basah, cincing. Tapi ini kejadian terjadi saat awal santriwati baru pertama kali diwajibkan pakai rok.

Bertahun-tahun santriwati sudah terlanjur biasa pakai celana. Pakai babydol. Saat keluar kamar, saat makan, saat olahraga, atau dibawa tidur. Model pakaian yang lebih bebas dan berkesan ceria. Tak ada peraturan mewajibkan pakai rok di luar jam pelajaran. Kewajiban pakai rok membuat kelincahan kaki sedikit terhalangi. Rasa ribet membuat mereka jadi reflek cincing.

Yang membuat kebijakan ini adalah Ust Muin. Mudir Ma’had yang berketetapan hati akan merubah image penampilan santri Assalaam. Khususnya santriwati dan Ustadzah wajib pakai rok atau berjubah dan dilarang pakai celana. Cermin paling jernih atas akhlak santri Assalaam adalah penampilannya. Penampilan santriwati harus anggun dan islami dengan rok dan jubah.

Tidak sedikit yang meragukan peraturan akan jalan. Alasan malu kalau pakai jubah karena dibilang seperti badut. Malu dibilang anak Ngruki. Nggak modis dan seperti kurungan ayam atau berbagai dalih pesimis lain. Dalih kosong yang kalau kita telaah hanya berlandas sikap hedonis. Apa-apa diukur dari enak atau tidak enaknya. Bukan benar-salah atau kemanfaatannya. Terpaan protes ini tidak menggemingkan para pengasuh.

Hasilnya Subhanallah. Saat keluar komplek pertama kali santriwati pakai jubah. Sungguh membanggakan. Santriwati yang berjubah itu seolah menunjukkan jati diri. Ini loh santri Assalaam. Yang berakhak Islami. Bermental teguh membela Islam dan simbol-simbolnya. Pakai jubah tapi tetap modis. Nggak tanggung menjalankan syariat menutup aurat.

Ada sedikit gagasan melintas dibenakku. Seandainya kebijakan itu diberlakukan bertahap. Santriwati kibar dulu, sedang santri sighor masih diperbolehkan. Bukankah santri kibar sudah gede dan memasuki usia dewasa. Patut kiranya berpenampilan lebih anggun. Lebih wanita. Pantas jika pakai rok atau berjubah lebar. Sedang santri sighor kan baru lulusan SD. Fisiknya juga masih kecil and mungil. Sifat keceriaan dan kelincahan masih melekat erat di setiap geraknya. Memberikan kewajiban pakai rok kok sepertinya membatasi mereka.

Sayangnya santri sighor lebih taat peraturan dari pada santri kibar. Jadi keberhasilan penerapan peraturannya kebalik. Santri sighor lebih dulu bisa diandalkan. Kalau aturan diterapkan berbeda mereka yang kibar pasti berdalih. Nggak adil, nggak toleran. Santri kibar paling bisa berdalih untuk tidak menjalankan aturan yang hanya akan membelenggu kebebasan mereka.
Semoga saja suatu saat nanti tidak perlu muncul rasa iri dari santri kibar kepada santri sighor. Tidak harus ada penyamaan peraturan yang kaku. Penerapan bisa luwes namun efektif.

Saat kemudian ada kunjungan pengasuh PP Al Mu’min Ngruki ke Assalaam. Dalam hati aku bersyukur, kami sekarang memang beda. Kepada Ust Muin kuhaturkan kalimat takzim: Jazakallah khoirul jaza’…

3 comments:

handono said...

menurut saya kalo pake jubah atau rok menyebabkan hilangnya ciri khas santriwati assalaam, yaitu cantik manis dan modis. Berjilbab khan tidak berarti harus kedodoran dan memakai jubah?
Saya sih stujunya lebih baik memperbaiki manner atau kepribadian daripada memaksakan jubah. Oke?

Aris Hanafi said...

Ada komen masuk lewat email. Saya porting agar bisa dibaca yg lain.

Assalaamu'alaikum :)
Perkenankan, sy iis santriwati assalaam tahun 1998-2001, cm MTs j.. :(
hm... walopun telat, menanggapi blog ust ttg santriwati di wajibkan pk rok :)
bgus bgt ust... :) y walo sll akan ada santri yg merasa terkekang :(
tp sy rasa hal ini baik utk membiasakan diri pk rok :)
sp bilang rok menghalangi kegiatan? sy pernah naik gunung pk rok, d protes ma temen2 c... tp akhirnya alhamdulillah nyampe jg :) bukan pendakian kok, cm naik2 j wlo medan rada licin, n tkdg jg sy hrs cincing2 :p
moga hal ini berdampak baik, memang awal nya sll ada pro-kontra :) tp ini kan utk kebaikan, knp tidak? :)
utk santri senior so pasti menolak :)

ada sedikit usul c, gmn kl memakai kulot, tetap boleh, asal baju atasannya panjang di bawah lutut 5cm..

itu saja ust... semoga PPMI ASSALAAM sll bertambah baik d sll dlm Lindungan ALLAH SWT :)
Amin...:)

Wassalamu'alaikum..

Aris Hanafi said...

Santriwati memang dibiasakan pakai rok oleh kesantrian. Sebenarnya kulot tetep dipakai santriwati kok, tapi hanya kalau di asrama, tidak waktu kegiatan resmi. Kalau olah raga juga santriwati pakai training dengan kaos panjang sampai lutut. Begitu juga untuk pramuka. Santriwati pakai 'rok - kulot' yg khas. Modelnya gimana silakan lihat ke Assalaam aja.

Ada beberapa model 'penyeragaman' lain yg khas untuk santriwati. Kadang memang bikin sedikit masalah. Kita tau kalau umumnya model baju yg dipasaran sering tidak lagi syar'i, atau nyerempet-nyempet 'bahaya'. Demi pendidikan khususnya penanaman akhlaq dan pencitraan santriwati apa boleh buat. Beberapa model dilarang di Assalaam. Kadang proses 'penyitaan benda terlarang' bikin konflik dengan ortu yg belum paham. Assalaam yg 'modern' kok begitu 'kolot'. Wah... seru dech... kadanga di dekat gerbang satpam terlihat 'adu otot' antar Ustadzah dan Ortu yg membela anak santrinya.