Wednesday, June 25, 2014

Jerusalem in The Qur'an. Resume Bag 3

Resumed by Aris IM4

Kalau ada yg pernah menyaksikan ceramah Imran N Hosein (via youtube) pasti akan takjub karna beliau selalu membahas permasalahan terkini berkait permasalahan umat dengan dalil Alqur’an dan hadits dengan interpretasi yang unik dan sulit dibantah. Ini karena sangat jarang ulama yg mampu memberi penjelasan memuaskan berkait dengan permasalahan aktual umat Islam seperti zionisme, ekonomi ribawi yang dianut hampir seluruh dunia bahkan di negri muslim, krisis Crimea (pecahan Rusia) dan maupun krisis Suriah dan Iraq. Khusus berkait krisis Iraq dengan perkembangan jihadis ISIS yg telah menguasai 4 kota di Iraq termasuk kota terbesar ke dua Mosul, menurut beliau adalah sekenario zionis untuk membuat perang antar sunni vs syiah sehingga yang paling diuntungkan adalah zionis yahudi dengan hancurnya negri-negri muslim.

Buku Jerusalem in The Qur’an menawarkan landasan berpikir untuk dapat mengantisipasi strategi zionis menghancurkan negri-negri muslim, menguasainya dan mewujudkan tujuan akhir  untuk menjadi penguasa dunia setelah USA meredup. Buku ini mematahkan klaim Yahudi untuk menguasai Tanah Suci Jerusalem.

Alqur’an menyatakan bahwa Tanah Suci, termasuk Jerusalem pernah diberikan kepada Bani Israel. Namun ada syaratnya bagi pewaris tanah suci Jerusalem. Yahudi telah melanggar syarat/aturan itu sehingga diusir oleh Allah dari Jerusalem.

DR. Daniel Pipes, dalam artikelnya yg diterbitkan surat kabar Los Angeles Times (“Jerusalem Means More to Jews than to Muslims”, Jerusalem Lebih Berarti bagi Umat Yahudi daripada Bagi Muslim, 21 Juli 2000), berusaha menolak klaim Islam terhadap Jerusalem dengan mengatakan bahwa Jerusalem: “tidak disebutkan sekalipun dalam al-Qur’an atau dalam peribadahan.”

Kata Jerusalem memang tidak disebut di Alqur’an tapi Alqur’an merujuk kata ‘Kota’ (Qaryah) yang dihancurkan, penduduknya diusir, dan dilarang kembali untuk memilikinya lagi (QS Al Anbiyah, 21:95-96) adalah kota Jerusalem. Nama menurut bahasa Arab untuk Jerusalem adalah “Bait al Maqdis”, Rumah Suci, pernah disebutkan dalam Hadits shahih Bukhori. Nama menurut Romawi yaitu Aelia juga disebutkan dalam nubuat yang sangat penting dari Nabi Muhammad SAW.

Allah menyebutkan tentang kisah Nabi Musa yg menghantarkan kaum Yahudi ke Tanah Suci melarikan diri dari kejaran Fir’aun yg menindasnya. Menyebrangi laut, malalui Sinai untuk sampai ke Jerusalem. Memasuki gerbangnya dengan berani dan membawa kemenangan meskipun ada musuh di dalamnya yang kuat dan ganas. Jerusalem disebut sebagai Ardhul Moqoddas (Tanah Suci). (QS. Al Maidah, 5:20-21).

Lalu lihatlah bagaimana berartinya Jerusalem dalam sejarah syariat sholat umat Islam. Umat Islam telah diubah kiblatnya dari Baitul Aqsho di Jerusalem ke Baitullah Kakbah di Makkah.  Kronologinya bisa kita urutkan:

  1. Sebelum sholat diwajibkan bagi umat Islam Rasullah biasa sholat menghadap masjidil Aqsho. Seperti Nabi-Nabi  terdahulu (Musa AS, Daud AS, Sulaiman AS dll sampai Isa AS)berkiblat saat rukuk dan sujud menghadap Allah SWT.
  2. Isro’ memperjalankan Rasulullah dari Majidil Haram ke Masjidil Aqsho. Lalu Mi’roj Rasullah ke Sidrotul Munthaha untuk menerima syariat sholat wajib lima waktu. Saat itu kiblat sholatnya masih ke Masjidil Aqsho.
  3. Cara favorit Rasulullah saat sholat sebelum hijrah adalah sholat menghadap Kakbah segaris dengan arah Masjidil Aqsho. Sholat menghadap kedua kiblat.
  4. Setelah hijrah Rasullullah tak bisa lagi menghadap kedua kiblat karena letak keduanya yang bertentangan dari arah Madinah.
  5. Peringatan terhadap Kaum Yahudi dan Nasrani untuk masuk Islam telah sampai pada titik akhir. Banyak kaum yahudi yang malah melecehkan syariat Islam. Maka kiblat sholat, kiblat untuk menyembah Allah, dipindahkan dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Haram.

Peristiwa Isro dan Mi’raj adalah mu’jizat Rasullullah untuk menguji keimanan. Apakah mereka percaya ataukah kafir dan mentertawakan Rasulullah sebagai orang gila.

“Maha Suci (Allah), yang telah Memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid Terjauh (al-Aqsha), yang di sekitar (wilayahnya) Kami berkahi, agar Kami dapat menunjukan kepadanya beberapa Tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat (segala sesuatu).” (QS Al Isra’/ Bani Israel, 17:1)

“Dari Jabir bin Abdullah yang mendengar Rasulullah bersabda: Saat orang-orang Quraisy tidak mempercayaiku (cerita perjalanan malamku), aku berdiri di Hijr dan Allah memperlihatkan Jerusalem di hadapanku, dan aku mulai menjelaskan kepada mereka sambil aku melihat padanya (Jerusalem yang diperlihatkan oleh Allah).” (Sahih Bukhari)

Masjisil Aqsho adalah tempat suci sebagaimana Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dimana disyariatkan bagi umat Islam untuk berziarah:
“Dari Abu Hurairah: Nabi SAW bersabda: Janganlah kalian melakukan perjalanan ziarah (suci) kecuali menuju tiga masjid: al-Masjid al-Haram (di Mekah), Masjid Nabawi (di Madinah), dan Masjid al-Aqsa (di Jerusalem).” (Sahih Bukhari).

“Dari Maimunah bin Sa’ad: Aku berkata: Rasul Allah, katakanlah kepada kami keputusan yang sah tentang (mengunjungi) Baitul Maqdis (Jerusalem), Rasulullah bersabda: Pergi dan berdoala h di sana (Ziarah). (Tetapi) semua kota pada suatu waktu nanti akan dipengaruhi oleh perang. (Jadi dia menambahkan) Jika kalian tidak dapat mengunjunginya dan berdoa di sana, maka kirimlah beberapa minyak untuk digunakan dalam menyalakan lampu (kirimlah dukungan).” (HR Abu Dawud)

Jika Dr. Pipes mengetahui bahwa Alqur’an yang menyatakan bahwa Tanah Suci pernah diberikan kepada umat Yahudi (dan tidak mungkin dia tidak mengetahuinya), dia seharusnya bertanya: Kebenaran apa yang dilakukan umat Muslim sehingga bisa mengambil alih hak milik umat Yahudi pada Tanah Suci (dan Kota Suci Jerusalem sebagai pusatnya) yang Allah dahulu pernah memberinya kepada mereka (umat Yahudi)? Alasan Dr. Pipes  tidak melakukannya adalah karena hal itu akan membuka “Kotak Pandora”. Pertama, dia tidak ingin mengarahkan perhatian pada Alqur’an, terutama jika berkaitan dengan hubungan antara umat Yahudi dengan Tanah Suci. Kedua, jawaban dari pertanyaan tersebut ada pada ayat lain dalam al-Qur’an saat Allah mengingatkan bahwa hak umat Yahudi memiliki Jerusalem dan Tanah Suci ‘bersyarat’ iman, berlaku adil dan beramal saleh. Iman, tentu saja, berarti ketaatan dengan penuh keyakinan pada agama Ibrahim. (QS Al Anbiya’ 21:105). Kaum yang lemah lembut seperti yg disebutkan dalam kitab Matius 5:5 “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi Bumi (Tanah Suci).”

Sekitar 600 tahun setelah pengusiran terakhir umat Yahudi dari Tanah Suci, Allah SWT memberikan kepada umat Muslim hak untuk memiliki Tanah itu saat pasukan Muslim manaklukannya dan Khalifah Umar RA secara pribadi diminta untuk memegang kunci gerbang kota. Pada hari itu pernyataan dalam al-Qur’an terwujud:

“Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di Tanah (Suci) dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’am, 6:165)

Allah SWT menetapkan bahwa umat Islam berhak mewarisi Tanah Suci. Dengan demikian, Kebenaran menang atas kebatilan. Saat mereka menguasai Tanah Suci mereka terus berkuasa di sana selama lebih dari seribu dua ratus tahun (bukan dalam waktu singkat). Itu adalah tanda yang jelas dari langit bahwa Tuhan mengijinkan umat Islam menguasai Tanah Suci! Sarjana-sarjana Yahudi harus menerima penjelasan tentang pemerintahan umat Muslim di Tanah Suci selama seribu dua ratus tahun itu, yakni: Pemerintahan umat Muslim bersifat adil, berlemah-lembut pada penduduk kota dan takut pada Tuhan.

Saya berharap ayat berikut akan menginspirasi umat Islam Palestina yg tertindas di negri mereka sendiri  (hingga tersisa hanya West Bank dan Gaza) bahwa Allah menjanjikan kemenangan baginya. Mereka telah diperlakukan tak adil oleh penguasa semena-mena Israel sebagaimana Yahudi dulu di diperlakukan tak adil oleh Fir’aun di Tanah Sudi Jerusalem.

“Dan Kami Wariskan kepada kaum yang tertindas itu bagian Timur dan Barat dari Tanah (Suci) yang Kami berkahi. Dan (dengan demikian) janji yang adil dari Tuhanmu kepada Bani Israel telah ditepati, karena mereka memiliki kesabaran dan tetap tabah dalam kesengsaraan. Sedangkan Kami Hancurkan semua yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan semua yang telah mereka bangun (dengan kesombongan).” ( QS Al ‘Araf, 7:137)

Friday, June 20, 2014

Jerusalem in The Qur'an - Bab 2

Bab Dua Misteri Jerusalem ‘Kota’ dalam Alqur’an

Nama Jerusalem sendiri tidak disebutkan secara jelas di Alqur’an. Ada semacam selubung rahasia berkenaan takdir nasib Jerusalem dan keadaan hari akhir yang hanya bisa diketahui dengan pasti pada saatnya nanti. Hampir tidak ada literatur Islam klasik yang membahas Jerusalem meskipun ia mempunyai kedudukan penting dalam dunia Islam. Jerusalem tak terusik sampai pada saatnya nanti Jerusalem akan menjadi titik sentral perhatian karena ia akan memainkan perannya yang menentukan sejarah perjalanan umat manusia dan dunia.

Hanya yang mempunyai pemahaman mendalam akan pengertian Alqur’an dan sunnah serta hati  yang jernih yang bisa melihat tanda-tanda rahasia ini. Tanda-tanda akhir zaman tidak bisa hanya dilihat secara kasat mata tetapi juga digunakan hati nurani yang bersih. Umat manusia banyak yang tertipu oleh Masih Ad Dajjal yang menyatakan diri sebagai pemimpin dunia yang diturunkan oleh Tuhan di bumi seperti yang telah Allah janjikan untuk memimpin dunia menuju zaman keemasan. Masih Ad Dajjal yang bermata satu. Mata yang hanya melihat dunia yang tampak. Dunia realitas, materialistis dan mengabaikan penampakan immaterial, nilai-nilai yang hanya bisa dilihat dengan kacamata hati dan keimanan. 

Saat umat Yahudi menolak Isa AS sebagai al Masih lalu membuat makar untuk membunuhnya (QS. An Nisa, 4:157), mereka tetap menunggu dengan yakin kedatangan al Masih (lain) yang dijanjikan. Menurut paham yahudi kedatangan Al Masih akan membawa masa keemasan bangsa yahudi dengan ciri-ciri:
  • Tanah Suci akan dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir, 
  • setelah pengasingan, umat Yahudi akan kembali ke Tanah Suci untuk menguasainya lagi 
  • Negara yahudi / Israel akan direstorasi,
  • Tempat  ibadah akan didirikan kembali untuk penyembahan (umat Yahudi) pada Tuhan-nya Ibrahim, 
  • Israel pada akhirnya akan menjadi Negara Penguasa di dunia seperti pada era kejayaan Nabi Daud As dan Sulaiman AS,
  • Raja Yahudi, yang akan menjadi al Masih, akan memerintah dunia dari tahta Nabi Daud AS, dan akhirnya kekuasaannya akan abadi sampai akhir zaman.

Bagaimana keadaan atau kejadian saat ini kemudian membuktikan klaim bangsa yahudi tersebut:
  • Tanah suci dibebaskan dari kaum kafir yang menurut yahudi adalah berhasilnya Jenderal Inggris, Allenby, menaklukan Jerusalem pada 1917 kemudian disusul pendudukan zionis israel mengusir penduduk muslim Palestina. 
  • Yahudi eropa berbondong bondong menuju ‘tanah yang dijanjikan’ dengan gerakan zionisme.
  • Negara yahudi ‘direstorasi’ pada tahun 1948 mencaplok tanah Palestina 
  • Prediksi kehancuran Masjid al-Aqsa dan pembangunan Tempat Ibadah Yahudi di lokasi tersebut akan menjadi kenyataan. Nabi Natan pernah menyatakan: “AlMasih akan membangun Rumah untuk Tuhan.” (I Tawarikh, [I Chronicles], 17:11-15), dijadikan dalil untuk menghancurkan Masjid Al Aqsa yang ada sekarang. 
  • Negara Israel yang bersenjatakan nuklir akan menguasai dunia dengan prediksi runtuhnya Amerika Serikat bersamaan runtuhnya dolar / ekonominya. Israel akan meluaskan pengaruhnya sampai bisa menguasai wilayah yg mereka sebut birobidzhan, daerah di antara dua sungai, sungai Nil di Mesir dan Eufrat di Irak. Euro-Israel pada akhirnya akan lepas dari ketergantungannya, yang pertama pada Inggris dan kemudian pada Amerika Serikat. Negara Euro-Yahudi pada akhirnya akan menggantikan Amerika Serikat dan Inggris sebagai Negara Adidaya secara militer dan finansial di dunia.

Menurut buku ini tentu hal yang terjadi di atas hanya bisa terjadi dengan adanya Dajjal. Maka keberhasilan yahudi membangun kembali kerajaan Sulaiman di Jerusalem pastilah merupakan tipudaya Dajjal. Tipudaya terbesar yang pernah umat manusia alami. Imam Mahdi yang memerintah dunia dengan adil belum muncul. Yang ada malah pemerintahan israel yang didirikan diatas ketidak adilan terhadap penduduk jerusalem. Negara sekular yang didirikan dengan teror, apartheit dan etnic cleansing jelas jauh dari pemenuhan janji firman Allah.

Alqur’an menggunakan kata Kota untuk menunjukkan kota suci Jerusalem seperti pada ayat berikut
“Dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel), “Tinggallah di ‘Kota’ ini saja (Baitul Maqdis yakni Jerusalem) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki. Dan katakanlah kata rendah hati dan masukilah pintu gerbangnya dengan berendah hati…” (QS. Al A’raf, 7:161)

Misteri Jerusalem dalam Alqur’an dapat kita kuak dengan mencari kata lain yg semakna yang digunakan oleh Alqur’an yg menunjukkan Jerusalem. Kota ‘Jerusalem’ semakna dengan ‘Tanah Suci’ Al Ardhul Muqoddas (QS Al Anbiyah, 21:95-96), dimana Bani Israel akan membuat fasad (kejahatan yang merusak) di Tanah Suci dua kali.
“Dan Kami sampaikan peringatan kepada Bani Israel dalam Kitab (Alqur’an) bahwa mereka akan melakukan Fasad (kerusakan) dua kali di ‘Bumi’ dan berbangga diri dengan kesombongan yang besar (dan dua kali mereka akan dihancurkan)!”(QS Bani Israel, 17: 4)

Dan telah ada larangan pada (penduduk) ‘Kota’ (Qaryah) yang telah Kami hancurkan, bahwa mereka (penduduk kota itu ) tidak akan kembali (untuk memiliki Kota mereka lagi). Hingga apabila Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan dan (kemudian) mereka turun berkerumun dengan cepat dari setiap ketinggian (menyebar ke segala arah).” (QS. Al Anbiya’ 21:95-96)

Kita bisa temukan pula bahwa Alqur’an menggunakan kata sederhana Al Ardh (‘Bumi itu’) yg dapat kita pahami sebagai  ‘Tanah Suci’ seperti pada ayat:
“Dan sungguh, telah Kami Tulis dalam Zabur setelah Al-Zikr (Taurat yang diberikan pada Musa); ‘Bumi itu’ akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh!”(QS Al Anbiya, 21:105)

Ayat di atas juga dapat dijadikan dasar bahwa syarat ‘pewaris syah’ bumi suci itu adalah para hambaKu yg shaleh. Bukan sekedar suatu kaum keturunan tertentu, seperti klaim yahudi.
Klaim yahudi sebagai manusia pilihan, ras unggul, membuat bangsa yahudi menjadi sombong dan semena-mena terhadap kaum lain (QS Bani Israel, 17: 4). Karakter kaum semitis inilah yang membuat bangsa lain menjadi benci. Seperti bangsa Aria Jerman yang uber ales tentu sangat benci dan berusaha menantang atau bahkan mengalahkan kalau perlu menghapus keberadaan bangsa semit. Dan terjadilah holocaust di bawah kepemimpinan ultra nasionalis Hitler.

Karakter ini pula yang membuat yahudi begitu kejam dan semena-mena terhadap bangsa Palestina.
“Dan ketika Janji telah dipenuhi terhadap mereka (Bani Israel), Kami akan memunculkan Binatang Buas dari ‘Tanah’ untuk mereka (Bani Israel). Dia akan berbicara kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia tidak meyakini dengan keyakinan yang pasti terhadap Tanda-tanda Kami.” (QS An Naml, 27:82)

‘Binatang Buas dari Bumi’ atau ‘Tanah’ adalah, seperti Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj, merupakan tanda-tanda besar Zaman Akhir. Jelas bahwa kata ‘Tanah’ atau ‘Bumi’ dengan menunjuk Binatang Buas tidak lain adalah ‘Tanah Suci’.

Dengan begitu, ketika Allah siap memulai hukuman-Nya kepada umat Yahudi, Dia mengangkat seekor ‘Binatang Buas’ di ‘Tanah Suci’. ‘Binatang Buas’ ini tidak lain adalah Negara Yahudi Israel. Negara yang dibangun dengan pondasi teror dan pembantaian bangsa Palestina seperti cita-cita pendiri zionis Hertzel. Negara yg dijaga tentara Mossad dengan semboyan pada logonya ‘By the way of deception, thou shalt do war’. Negara yang dilindungi dengan tembok tinggi disekelilingnya. Negara yang mempunyai keintelekan tinggi tapi digunakan untuk membuat standar ganda. Negara terbanyak mendapat resolusi dari PBB karena melanggar aturan hubungan internasional namun diveto oleh USA.

Sungguh Allah memilih tanah suci tidak lain adalah untuk menguji umat manusia. Bahwa yang berhak atas tanah suci itu adalah hamba-hambanya yang beriman dan beramal shaleh. Apakah ia yahudi, nasrani atau muslim ia akan mendapat kesempatan/ujian yang sama. Yang benar akan bertahan sedang yang batil akan terusir. Kesalehan, kebajikan, ketaatan, dan ketundukan pada Allah Maha Tinggi merupakan inti utama dari ‘kebenaran’ yang dibawa Ibrahim AS. Apakah ‘kebenaran’ itu ada pada Kristen, Yahudi, atau Islam? Jerusalem siap menjawab pertanyan tersebut! Adalah takdir Jerusalem untuk mengesahkan ‘kebenaran’. Dan hal itu tentu menjadi inti utama dari buku ini.

Tuesday, June 10, 2014

Jerusalem in The Qur'an




Judul Buku   : Jerusalem in The Quran
Pengarang    : Imran N Hosein
Penerbit        : Masjid Dar al-Qur’an, Long Island, New York, AS
Resensi oleh  : Aris Hanafiyah

Dihancurkannya Bagdad, Irak (dulu adalah pusat peradaban Muslim) oleh pasukan Amerika dan sekutunya dengan alasan yang tidak terbukti. Berikutnya AS membangun pangkalan militer serta membentuk pemerintahan ‘demokrasi’ yang tunduk pada kepentingan AS (Israel). Dijajahnya Palestina oleh Israel dan tak ada tanda-tanda membaik tetapi justru semakin berkuasanya Israel yang kini mempunyai senjata nuklir. Berkecamuknya perang Syria yang sudah 3 tahun belum ada tanda mereda dimana Basyar Assad didukung Iran (Syiah) dan Rusia. Digulingkannya presiden Mesir terpilih dengan pemilu, Morsi, yang mendeklarasikan pembebasan Jerusalem bagi umat Islam dan meminta Basyar mundur dari jabatannya (Ribuan pendukungnya yang protes dibantai di jalanan Kairo berikutnya kemudian MB sebagai organisasi politik Morsi telah dilarang dan ratusan anggotanya dijatuhi hukuman mati). Belum lagi pendudukan AS di Afganistan. Khaos di Libya dan Sudan. Pangkalan militer AS di Yaman dan Pakistan. Meskipun ‘tampaknya’ Israel dikepung sehingga perlu melindungi diri dari serangan bangsa Arab, namun saat ini, ‘kenyataannya’ adalah Israel sedang menyiapkan perang besar melawan bangsa Arab agar perbatasan Negara Yahudi tersebut dapat meluas secara dramatis sesuai dengan wilayah Tanah Suci dalam al-Kitab, yakni “dari Sungai Mesir sampai Sungai Eufrat.” Renteran fakta dan peristiwa di atas kini seolah menampar wajah umat Islam dunia. Peristiwa yang membuktikan klaim buku The Class of Civilisation antara bangsa barat dan umat Islam. Dan percaya atau tidak titik sentral permasalahan adalah perebutan Jerusalem, Palestina, tanah suci, tanah yang dijanjikan. Tanah tempat lahirnya Ibrahim (Bapak para Nabi). Tanah para nabi diutus. Tnah suci yang menjadi sumber perselisihan. Inilah yang mendorongku memilih buku Jerusalem in The Qur’an untuk kubaca, kubedah karena buku ini menyajikan penjelasan yang bersumber dari Alqur’an. Ditulis oleh Imran N Hosein, Imam masjid Dar Al Qur’an, Long Island, New York, yang kini tinggal di Malaysia.

Part One, Chapter 1

Kalau kita mencari referensi tentang relasi Israel dan Palestina maka kita tidak akan bisa melepaskan analisa tentang klaim Israel atas Jerusalem untuk menjadi ibukota Israel masa datang. Ini yang membuat perundingan selalu mentok (tak ada pemimpin Palestina yg menyetujuinya) dan dimanfaatkan benar oleh Israel untuk membiarkan keadaan ini seraya dengan culas mencaplok sedikit demi sedikit tanah jajahan di Palestina. Palestina adalah negri muslim yang menduduknya dilecehkan, dirampas tanahnya dan dianggap warga negara kelas dua atau bahkan diperlakukan seperti binatang oleh bangsa Israel.

Buku Jerusalem in The Qur’an Bab Pendahuluan dibuka dengan ayat Al Qur’an surat Al An’am 6:104. “Sungguh telah datang dari Tuhan-mu bukti-bukti yang terang; maka barang siapa yang dapat melihat (dan mengenali kebenaran itu), maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya, dan Aku tidak menjadi pelindungmu.”(QS al-An’am 6:104)

Alqur’an adalah tibyaan atau penjelasan segala sesuatu yang dibutuhkan ummat Islam untuk menjadi hambaNya yang terbaik (QS An Nahl 16:89). Jika paham dengan penjelasan Alqur’an maka manfaatnya bisa menyelamatkan diri dari kerusakan yang ditimbulkan dan jika tidak paham maka kerugian akan dirasakan sendiri. Termasuk tentang penjelasan terkait Jerusalem (Palestina) dimana saat ini dirasakan sebagai daerah paling berdarah-darah di negri muslim sampai beberapa dekade tanpa ada penyelesaian akibat pendudukan Israel. Alqur’an tentu menjelaskan fenomena aneh sepanjang sejarah umat manusia dan sangat perpengaruh terhadap sejarah umat manusia keseluruhan. Beberapa keanehannya adalah:
  • Mengapa Eropa kristen yang sekular berusaha ‘memerdekakan’ Tanah Suci dengan mengobarkan perang salib 1000 tetapi kemudian menghadiahkan kepada bangsa Yahudi. Dan mengapa hanya Eropa Kristen yang terobsesi demikian? Bukankah ada Timur tengah Kristen atau Yahudi timur tengah yang lebih berhak begitu?
  • Yahudi Eropa berhasil mendirikan negara Israel sebagai wujud restorasi kerajaan Israel kuno yang didirikan Nabi Daud AS dan Sulaiman AS dimana 2000 tahun lalu telah hancur. Mengapa hanya Yahudi Eropa yang begitu terobsesi untuk mengembalikan yahudi ke tanah suci?
  • Kembalinya umat Yahudi Bani Israel (yakni Yahudi non-Eropa) ke Tanah Suci setelah mereka diusir dari sana oleh Allah dan mereka telah hidup dipengasingan selama dua ribu tahun terserak di permukaan bumi.
Menurutku ada satu pertanyaan lagi yang tersisa yaitu mengapa eropa kristen seolah merasa berhasil menyingkirkan yahudi dari eropa dengan membuangnya ke timur tengah (tanah suci Yerusalem) agar eropa terhindar dari masalah bangsa yahudi? Bahkan bangsa aria (Jerman) berusaha memusnahkan yahudi di eropa dengan peristiwa holocaus tapi gagal memusnahkannya.
 
Buku ini tidak hanya menjelaskan hal aneh tentang kejadian-kejadian di atas bahkan meramalkan apa yang akan terjadi di Jerusalem sebagai tanah suci. Alqur’an menjelaskan takdir Jerusalem. Inti dari pandangan Al-Qur’an mengenai takdir Jerusalem adalah bahwa saat Akhir Zaman tiba, umat Yahudi pasti dikumpulkan dari diaspora, hidup tersebar, dan menjadi terasing, kemudian dibawa kembali ke Tanah Suci dalam keadaan ‘bercampur baur’ (QS Bani Israel, 17:104). Janji Allah tersebut telah ditepati. Umat Yahudi telah kembali ke Tanah Suci dan menguasainya lagi! Keberhasilan itu membuat mereka mempercayai legitimasi religius Negara Israel yang mereka ciptakan. David Ben Gurion, perdana mentri Israel pertama menyatakan, “The Bible is our deed to land of Israel”. Zionis Israel selalu mengacu ayat-ayat kitab Taurat yang telah dipelintir untuk menjadi alasan pembenar atas kekejian mereka terhadap penduduk Palestina dalam upaya mendirikan negara Israel. Islam menjelaskan bahwa Negara Israel tersebut tidak memiliki legitimasi religius sama sekali. Bahkan, umat Yahudi tersebut telah ditipu dalam aksi penipuan terbesar dalam sejarah (yang dilakukan oleh Dajjal), dan keadaan tersebut menjadikan mereka akan menerima azab Tuhan terpedih yang ditimpakan kepada umat manusia. Namun, sebelum hukuman akhir dari Tuhan ditimpakan kepada Bani Israel, akan ada drama besar yang terjadi di Tanah Suci dan di dunia. Buku ini menjelaskan beberapa drama yang nyata tersebut.

Sesungguhnya, tujuan dasar buku ini adalah untuk menjelaskan bahwa Islam memiliki pandangan yang berbeda mengenai proses historis berkaitan dengan Tanah Suci, yaitu bahwa sisa waktu bagi Israel akan segera habis. Laut Galilee akan segera mengering! ‘Isa (Jesus) AS akan kembali! Dan kembalinya ‘Isa AS dengan pasukan Almahdi akan menandakan Kehancuran Negara Israel!

Implikasinya bagi umat Islam

Adalah kenyataan bahwa Jerusalem tempat dimana dulu umat Islam sholat berkiblat padanya seharusnya dicintai dengan sepenuh hati – seperti tanah suci Mekah dan Madinah – dan perjuangan membebaskan Tanah Suci dari Negara Yahudi Eropa Israel sekuler seharusnya menjadi perjuangan yang paling dicintai oleh Muslim. Dunia Islam seharusnya memusatkan segala daya dan keuangan untuk membantu usaha pembebasan Tanah Suci dari penindasan. Dan yang paling penting, umat Islam  harus mempelajari pesan dan pentunjuk al-Qur’an mengenai takdir Jerusalem lalu mengajarkannya kepada yang lain.

Sebelum adanya imperialisme barat terhadap wilayah muslim, Yerusalem merupakan bagian dari Syam. Kehancuran Turki Usmany, kekalifahan umat Islam terakhir, berimplikasi dikoyaknya wilayah muslim menjadi negara berkeping-keping oleh ide nasionalisme yang dicangkokkan (nashabiyah yang dulu dilarang oleh Rasullullah). Sebagian besar kini menjadi negara bermasalah dengan ide demokrasi yang dijual AS ditandai layunya Arab spring sebelum berkembang dan mekar.

Pembaca buku ini mungkin ingin merenungi doa Nabi Muhammad SAW: “Dari Ibnu Umar: Nabi SAW bersabda: Ya Allah! Limpahkanlah Rahmat-Mu untuk Sham (Suriah) dan Yaman kami. Orang-orang berkata: Najd kami (Najd adalah bagian dari Saudi-Arabia yang merupakan tempat asal penguasa-penguasa Saudi). Nabi bersabda lagi: Ya Allah! Limpahkanlah Rahmat-Mu untuk Sham dan Yaman kami. Mereka berkata lagi: Najd kami juga. Pada saat itu Nabi bersabda: Akan muncul gempa bumi dan penderitaan, dan dari situ (Najd) akan keluar kepala Setan.”(Sahih Bukhari).

Memahami kedudukan Jerusalem dalam pentas dunia sangat penting bagi umat Muslim. Pada 1974, Dr. Kaleem Siddiqui, pendiri dan presiden Muslim Institute for Research and Planning (Institute Muslim untuk Penelitian dan Perencanaan) di London, mendorong penulis segera membuat buku yang menjelaskan Jerusalem sebagai kunci untuk memahami proses sejarah, seperti yang ditunjukkan Jerusalem sendiri pada saat ini. Pandangan al-Qur’an yang muncul dari buku ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak mungkin bagi siapa pun benar-benar memahami dunia modern ini tanpa mendalami kenyataan Jerusalem!

Barat modern ingin umat Islam menyetujui keinginan mereka, yakni menerima Negara Yahudi Israel dan agar bisa hidup berdampingan bersamanya dengan damai. Buku ini menyampaikan tanggapan Islami terhadap keinginan strategis Barat tersebut, sebuah tanggapan yang berdasarkan pada al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Buku ini menyatakan bahwa tidak akan pernah ada damai di antara pengikut sejati Nabi Muhammad SAW dengan Negara Yahudi Israel, dan bahwa pengikut sejati Nabi Muhammad SAW pada akhirnya akan menang atas Israel dan membebaskan Tanah Suci dari penindasan Israel.