Friday, April 13, 2007

Kado Buat Sahabat


Artikel ini adalah draft saat saya diminta oleh mahasiswa UMS untuk membedah buku Kado Buat Sahabat karangan Izzatul Jannah. Pengarangnya sendiri, bu Intan Savitri, berhalangan hadir karena ortunya sakit maka Istri saya diminta menggantikan. Selanjutnya Istri malah melempar ke saya, walaah

“Bukunya asyik banget deh. Ngeyakinin kita kalo persahabatan itu penting. Cocok banget kalo kamu hadiahin ke sahabat kamu sambil bilang kalo kamu sayang dia karna-Nya... “ (Rifzahra)


Di antara beberapa buku karangan Izzatul Jannah buku ini termasuk yang dibuat berseri. Tidak kurang dari 5 buku karangan penulis produktif ini dibuat berseri dibawah Eureka lini penerbit Era Intermedia. Formatnya yang mungil pas di saku (baik bentuk maupun harga) buat para remaja yg jadi sasaran pembaca. Gaya bahasa yg ringan n gaul dipilih tanpa kehilangan bobot isinya. Beliau adalah pendiri Forum Lingkar Pena atau FLP Solo dengan produktifitas tulisan yang luar biasa. Kita tahu kalau Indonesia masih tergolong rendah dalam baca tulis. Pada tahun 1996 jumlah buku yg terbit hanya 6.000 judul padahal penduduk Indonesia sudah mencapai 200 juta, kalah jauh dibandingkan dengan Amerika dengan 100.000 judul dan Inggris 61.000 judul. (Kompas, 25 September 1996). Namun demikian perkembangan FLP dengan genre buku novfis untuk teenlit yang awalnya digagas Helvy Tiana Rosa ini cukup menggembirakan. Puluhan ribu penulis baru muncul dengan ribuan judul buku telah terbit sampai saat ini.

Kado Buat Sahabat ini awalnya dibuat penulis untuk mengisi rubrik majalah Karima (alm) saat beliau aktif sebagai Pimred. Karena sayang jika hilang begitu saja maka diterbitkanlah menjadi serial buku tentunya dengan format dan tampilan yang lebih keren. Contohnya pada pembukaan buku yang dibuka dengan kartun. Wow… sesuatu yg bisa dibilang sangat inovatif pada jamannya. Komik dan tulisan diramu jadi satu.

Yang membuat bacaan Teenlit ini patut dibaca dan dikoleksi adalah kentalnya ajaran Islam yg menjadi pijakan. Islam adalah solusi kehidupan terpapar dengan cerdas. Misalnya di Bab 1 memuat tak kurang dari 10 ayat dan hadits. Ayat dan hadits disandingkan dengan kata-kata bijak bernas lainnya. Tampak latar belakang penulis sebagai aktifis harokah mewarnai buku karangannya ini. Tetapi meskipun begitu, materi berat disusun dengan ramuan kata-kata gaul pas buat remaja. Sedemikian khas racikannya sehingga unik dan sulit untuk ditiru begitu saja oleh penulis-penulis lain.

Saya pernah diminta membuat karangan yang ditujukan untuk santri-santri yg juga remaja. Ternyata tidak mudah menyusun karangan seperti gaya Izzatul Jannah. Apa yang saya hasilkan cenderung menjadi bacaan ‘dewasa’. Gayanya lebih mirip seseorang sedang memberi ceramah. Atau lebih tepatnya karangan gaya pidato seorang guru agama dimimbar yg lupa bahwa apa yang ia sampaikan bergaya menggurui. Jadi saya sangat menyadari betapa tidak mudah membuat bacaan untuk remaja apalagi jika isinya harus tetap berbobot.

Menurut arikel yang pernah saya temui di internet untuk mencapai ketrampilan penulis heboh semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

1. Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, penulis harus terlebih dulu "memelihara" keingintahuannya sendiri akan suatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

2. Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang "rumit" dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

3. Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang "sastrawi" jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).
Menulis catatan harian seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam akan mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya. Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah saja melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

4. Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang "berkacamata kuda". Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut, nasyid sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana saja.

Menurut Hernowo: Intelektual Indonesia itu sebenarnya hebat. Mereka pandai ngomong dan, kadang, memiliki banyak sekali gagasan. Sayangnya, mereka tak piawai menulis. Ketakpiawaian menulis ini menyebabkan gagasan-gagasan hebat milik mereka mudah terbawa angin dan akhirnya tidak mampu memberdayakan mereka. Kalau toh kemudian mereka menulis, maka tulisan mereka kering dan tidak mudah dibaca oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Friendship’s Kudo
Tema yang diangkat adalah seputar persahabatan atau Friendship sangat lekat pada dunia remaja. Menurut psikolog, remaja tidak lepas dari peer group. Remaja akan lebih terbuka dengan teman dari pada dengan orang tua apalagi guru. Teman yang sangat akrab atau sahabat biasa menjadi tempat curhat. Tak jarang tidak adalagi rahasia di antara sahabat. Khususnya buat cewek maka kebutuhan tempat curhat ini sudah seperti makanan pokok.

Sahabat bisa ditemukan dari sekolahan maupun di kampung. Biasanya karena ada kesamaan dan interaksi yg intent. Persahabatan masih bisa dijalin meski saling berjauhan.
Jaman dulu ada sahabat pena. Persahabatan yg dijalin dengan surat-suratan. Kemudian muncul HP maka digunakanlah sms untuk bertukar kabar dan segera disusul videophone menggunakan 3G. Di era internet ada email dan yg terakhir ada ☺Friendster. Jaringan pertemanan di dunia maya yg sedang ngetren abis. Sampai-sampai kita bisa berteman kepada seseorang yg sama sekali belum pernah bertemu. Perkembangan teknologi menciptakan kemudahan dan alternatif dalam berhubungan satu dengan yg lain. Pada satu sisi teknologi merupakan solusi berbagai permasalahan tapi ia juga menyimpan permasalahan pada sisi yg lain.

Pada kekuatan yg besar tersimpan tanggungjawab yg besar pula.
(Nasehat Uncle Ben kepada Spiderman sebelum meninggal)


Masalahnya persahabatan yg dijalin kadang justru mendatangkan masalah pelik. Tak jarang bukan kebaikan tapi justru kemadhorotan yang didapat. Kurangnya pertimbangan dan terlalu emosi menjadi dasar kecerobohan. Karena tidak obyektif lagi seseorang bisa membela sahabatnya dalam segala tindakan dan pilihannya. Bahkan sahabat akan dibela meski melakukan kesalahan. Kalu yg begini bukan tipe sahabat yg baik lho…

Persahabatan juga bisa menjerumuskan seseorang kepada kehancuran jika ia tidak pandai memilih pergaulan. Untuk itu ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Dan ajaran Islam telah memberi resep yg tak pernah ketinggalan zaman. Menurut sabda Nabi:” Seseorang itu sejalan dan bergaya hidup seperti sahabatnya, maka hati-hatilah dalam memilih sahabatnya”. Dalam hadits lain beliau menyampaikan:”Sebaik-baik sahabat adalah apabila engkai khilaf maka ia akan mengingatkanmu, dan apabila kamu ingat ia akan membantumu”.

Monday, April 09, 2007

Lagi Pimpinan Pondok Assalaam diganti


Direktur Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Dr M Muinudinillah Basri MA dicopot, menyusul keputusan rapat pleno Yayasan Majelis Pengajian Surakarta (MPS) tanggal 2 April 2007 lalu. Berita selengkapnya silahkan klik: Suara Merdeka, Rabu 4 April 2007

Tak sulit menduga bahwa kepemimpinan Ust Muin tak akan bertahan lama. Alasannya? Jam terbang Ust Muin di luar Assalaam yg begitu tinggi baik sebelum menjadi Mudir sampai sekarang(Dosen tetap Program Magister UMS, Dewan Syariah PKS Pusat). Beliau juga tidak tinggal di Assalaam serta santernya isu adanya friksi dengan Yayasan sudah cukup membuat prediksi bahwa Assalaam akan ganti pimpinan lagi. Yayasan tidak mbelani, beliau juga tak punya interest untuk ngotot bertahan dengan kondisi seperti ini.

Kapasitas beliau sungguh sangat tinggi. Doktor Syariah lulusan Medinah, hafidz Alqur'an, setiap khutbah selalu menggugah. Jadi pasti sulit mencari ganti dengan kapasitas yang sepadan.

Masa kepemimpinan Beliau yg dimulai pada Desember 2004 sampai 2 April 2007 sesungguhnya sangat singkat. Beberapa perubahan struktural telah dilakukan seperti menggabungkan Unit Kesantrian ke Unit Sekolah, berdirinya LZIS Assalaam dan Syirkah Taawuniyyah. Juga menggabungkan kembali 'Assalaam Cattering and Resto' kembali menjadi Unit Dapur Assalaam.

Selamat jalan Ust Muin... kebersamaan singkat ini semoga tak terlupakan.

Friday, March 16, 2007


ArtImage by Aris

Saya coba masuk ke technorati.
Maunya menclaim blog.
Langkah pendaftarannya agak mbulet tapi diikuti aja.
Technorati Profile

Wednesday, January 31, 2007

Sarasehan Penegakan Kedisiplinan Santri


Akhir Desember 2006
Litbang Assalaam

Latar Belakang:
1.Kondisi kedisiplinan santri masih rendah.
2.Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi masih kurang efektif.
3.Kadang-kadang terjadi kesalahan pendekatan (kekerasan) dengan implikasi sampai ke meja hukum
4.Perlu dicari pendekatan pendisiplinan.

M Ridlo:
1-Sekarang ini terjadi Krisis kepembimbingan di kalangan santri => kesiswaan sbg penanggungjawab tidak efektif.
2-Santri (wali santri) mengalami pergeseran nilai. Penegakan kedisiplinan dianggap pelanggaran terhadap HAM, pengekangan kebebasan dan ketidakadilan.
3-Ustadz tidak sekata dalam kedisiplinan. Ada yg menegakkan tapi ada yg melindungi pelangaran.
Contoh kasus: Banyak santri tidak tidur di kamarnya. Sementara ada ustadz yg menampung santri dirumahnya, lengkap degan AC dan TV.
4-Pimpinan tidak stand by di Pesantren sehingga tidak cepat dalam penanganan permasalahan kesantrian yg terjadi dan membutuhkan solusi segera dari penanggungjawab.

M Basith:
1-Santri bolos kucing-kucingan. => membutuhkan pengawasan di lapangan.
2-Petugas piket tidak disiplin dalam menjalankan tugas. Masih ada piket yg mangkir tetapi pengawasan terhadap kemangkirannya tidak efektif.
3-Saran: dibuat pertugas pengawasan dengan sistem shift.

Yanik Kh;
1-Pembimbing yg di dalam jumlahnya sedikit (dibandingkan jumlah santri dan kasus yg ditangani), dengan kepedulian dan kekompakan kurang.
2-Organisasi secara formal baik, tetapi realitanya kurang berjalan dengan baik. Ketika ditegur, jawabannya mereka sudah bekerja. Bgmpun mereka sudah bekerja sesuai sistem.
3-Banyak toleransi dan tawar menawar degan wali santri dalam soal kedisiplinan.
4-Penjelasan tibsar membutuhkan penjelasan yg panjang. Sosialisasi kepada santri dan wali santri masih dibutuhkan.
5-Mungkin perlu meninjau ulang kegiatan sore, apakah sudah tidak layak?
6-Contoh kasus: MA tidak sabar dalam pelaksanaan Muhadhoroh, lalu MA berjalan sendiri... Tidak bisa dikoordinasikan karena sistemnya berbasis unit.

Masfuroh M:
1-Di Asrama maupun kelas masih sering ada kehilangan. Jumlah kehilangan uang di atas 20.000 sehingga takut melapor karena tibsar hanya membolehkan santri membawa uang maksimal 20.000. Padahal kehilangan biasa sampai ratusan ribu bahkan uang syahriah jutaan rupiah.
2-Kurang sadar kebersihan sehingga lingkungan kamar dan asrama kotor. Piket kebersihan kamar tidak jalan. Lomba kebersihan yang diadakan juga tidak semarak.

Rimayanti Dewi:
1-Keluhan dari ustadzah, seluruh tugas dilimpahkan kepada tenaga yg ada di dalam. Jadwal bertumpuk tetapi hanya itu-itu saja orangnya. Overload jadinya.

M Farchan:
1-Masih banyak pelanggaran berat dibiarkan, untuk apa mencatat pelanggaran kecil
2-Kurang kepedulian dari sesama Asatid.
3-Kebijakan direktur soal ijin, tidak perlu dituruti. Perijinan mempunyai maksud mendidik santri sehingga harus dipahamkan kepada wali santri juga.

Siti Khasanah:
1-Hasil studi banding: Kondisi Pondok lain pondoklah yg mengatur sanri secara penuh tetapi di Assalaam wali santri ingin mengatur pondok.
2-Perlu forum dimana Kesantrian bertemu dengan wali santri untuk menyuarakan persoalan pembinaan dalam pondok.

Hanif F:
1-Melihat sistem, tampaknya hebat di permukaan tetapi tidak bisa diaplikasikan dengan baik di lapangan karena sistem kurang sesuai dengan komunitas Assalaam, atau pelaksanaannya hanya sepotong-sepotong. Dasarnya memang hanya sepotong-sepotong, contoh berbasis unit kenyataannya asrama unit tidak ada, sehingga program berbasis unit juga tidak jalan. Selain itu tingkat pelaksanaan hanya reaksioner.
2-Kekurangmampuan dalam mengambil keputusan ttp berani mengambil keputusan.

Catatan lain:
-Kasus: Pemilihan pengurus OP dengan draft disampaikan ke asatidz. Setelah draft direfisi, ternyata tak diganti sehingga timbul permasalahan..
-Kasus: Masih banyaknya pembawa HP dikalangan santri terutama kelas V dan VI. Pengurus OP hanya menyita HP santri kelas I sd IV. Ini saja sudah lebih dari 7 HP tersita.
-Kasus: Masih banyaknya santriwan merokok, karena kesempatan membeli rokok masih luas saat keluar komplek sore ke wilayah selatan.
-Penanggung jawab pembinaan sebenarnya sudah berlapis lapis. Ada wali kelas, wali kamar, wali rayon, kesiswaan dan kesantrian unit juga Kepala sekolah. Di OP ada bagian Taklim, Amn dan Haiayul hizbah. Tetapi kenyataan penegakan kedisipinan masih rendah.


Solusi-solusi:
-Diangkat petugas jaga dengan penempatan di lokasi trategis untuk pengawasan => kendala biaya or SDM
-Dibentuk petugas piket dengan sistem shif => ada sistem kontrolnya.
-Diadakan sharing di tingkat direktur dengan pembimbing lapagan dalam persoalan kedisiplinan
-Evaluasi atas ditiadakannya kesantrian. Litbang memberikan data ttg efek dihilangkannya Unit Kesantrian.
-Perlu dispesifikkan materi utk diskusi lebih lanjut sehingga bisa lebih mendetil karena banyaknya persoalan yang harus diselesaikan.
-Disarankan lebih konsisten dengan basis unit, atau diubah... (pembenahan sistem)

Peserta Sarasehan:
-Ust M Farchan
-Ust M Ridlo
-Usth Siti Hasanah
-Usth Masfuroh Misfah
-Usth Yanik Kh
-Usth Rimayanti Dewi
-Ust Hanif Fakhrudin
-Ust M Basith
- Staft Litbang

Sunday, January 21, 2007

Menyempurnakan Taqwa dalam Keadaan Bagaimanapun

Khutbah Iedul Adha 1427H di YPAC Surakarta
Oleh: Ust. Aris Hanafiyah, ST.

Alhamdulillah, nahmaduhu wa nastainuhu, wa naudzubillahi min sururi a’malina.
Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah atas segala rahmat dan hidayahNya.
Marilah kita rayakan hari yang sangat mulia ini. Bersama jutaan kaum muslimin yang berhajji berkumpul di Baitullah Makkah mukarromah memenuhi panggilan Allah. Kita agungkan Allah dengan bertakbir, bertahlil dan bertahmid memujiNya.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Hari raya ummat Islam Iedul Adha ditandai dengan sholat Ied di tanah lapang kemudian dilanjutkan dengan berqurban. Dari asal kata Qoruba-yakrubu-qurbanan yang artinya mendekat /pendekatan. Dalam pengertian agama: Qurban berati: Usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih binatang ternak yang dilaksanakan sesuai tuntunan semata-mata untuk mencari ridho Allah.

Keutamaan berqurban sangatlah mulia. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
“Tidak ada amalan ibadah lain yang dilakukan oleh manusia yang Allah lebih cintai di hari nahr (Iedul Qurban) selain menyembelih binatang kurban. Sesungguhnya hewan-hewan kurban itu pada hari kiamat kelak akan datang beserta dengan tanduk-tanduknya, bersama dengan bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan pahala qurban itu.” (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Al Hakim)
Rasulullah juga memberikan ancaman bagi mereka yang enggan berqurban:
“Barang siapa mempunyai kesempatan (kemampuan) untuk berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya, maka janganlah ia dekat-dekat ke tempat sholat kami”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Huroiroh)
Qurban adalah bukti nyata ketaqwaan:
لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {37}
“Tidak sampai daging-daging itu kepada Allah, juga tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepa Allah adalah ketakwaan kalian. Demikian Allah memudahkan bagimu agar kamu dapat mengagungkan asma Allah atas segala hidayahnya dan agar kamu memberi kabar gembira bagi orang-orang muhsin”.(QS. Al Hajj: 37)

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Lewat mimbar mulia ini, kami ajak seluruh hadirin juga pada diri saya sendiri: Marilah kita bertaqwa dengan sesungguhnya taqwa. Jangan sampai kita mati kecuali sebagai seorang muslim.

Jebakan untuk tergelincir sangatlah banyak. Dunia yang sudah tua ini penuh dengan godaan. Ia akan selalu membuat tergelincir mereka yang lengah. Marilah kita coba meneladani Nabi Ibrohim as Kholilullah dalam mensikapi dunia saat perintah Allah datang mengujinya. Manusia agung pilihan Allah, Ibrohim menerima ujian yang maha berat. Ujian untuk menjadi teladan manusia sepanjang jaman.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا(125)
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlash menyerahkan diri kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibramin yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya”. (QS. An Nisa’: 125)
Peristiwa penuh hikmah ini diabadikan dalam Alqur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ {102}
“Dan ketika anak itu sampai umur (sehingga ia bisa berjuang bersama Ibrahim), (Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu". Ismail menjawab: "Wahai Bapakku, Kerjakan apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang yang bersabar.”(QS Ash Shofat 102)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Marilah terus tingkatkan ketaqwaan kita. Bertaqwa tanpa cari-cari alasan untuk menghindar. Entah alasan malas. Tidak menguntungkan bisnis (maka karyawan tidak diberi kesempatan cukup untuk sholat). Tidak produktif. Atau bahkan alasan bahwa ibadah itu tidak masuk akal sekalipun.

Nafsulah yang menyebabkan manusia tergelincir.
إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
"Sungguh nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan."(QS. Yusuf: 53)
Nafsu yang dibenarkan oleh akal manusia. Dengan berbagai alasan untuk menolak atau menyepelekan perintah Allah. Sholat dianggap meboroskan waktu. Jihad fi sabillah dicap teroris. Qurban dianggap ritual kuno dan tak ada untungnya. Haji dianggap perjalanan sia-sia dan membuang uang. Naudzu billahi min dzalik.

Tak terkira jumlah orang yang berakal pandai. Sederet gelar disandang tapi tidak mendekatkan pengetahuannya pada makrifat pada Allah. Segudang uang di tumpuk, tapi tidak membuatnya sadar bahwa ada hak orang miskin (zakat-shodaqoh) yang harus ditunaikan. Semakin banyak harta justru semakin miskin jiwanya. Kesempatan dan kesehatan dan kesempurnaan jasmani tidak membuatnya penjadi hamba allah yang paling bertakqwa yang berdiri paling depan mengemban dakwah jihad fi sabillah, tapi justru menjadi hamba nafsu. Betapa mereka yang cantik dan rupawan tapi hatinya kosong dan terjerumus pada penghambaan pada nafsu. Mereka yang sempurna jasadnya dan menjadi pujaan idola manusia tetapi dimata Allah mereka makhluk yang hina. Derajatnya lebih rendah dari binatang. Karena kelakuannya menang kelakuan rendahan.
Laqod kholaqnal insana fi ahsani takwiim tsumma rodadnahu as fala saafiliin.
“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, lalu kemudian kami kembalikan derajat mereka ketempat yang paling rendah.”
(QS At Tiin: 4)

Sungguh segala yang ada di dunia ini fana. Maka jangan sampai kita tertipu dengannya.
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “ (QS. Al Hadiid: 20). Carilah kehidupan akhirat. “Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal.”(QS. Al A’la:17)
Dengan berbagai ujian yang menimpa, bencana, kesulitan, kekurangan dan godaan. Bersyukurlah kita masih diberi nikmat Allah yang paling berharga. Nikmat Iman dan Islam.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
Islam adalah diin sempurna (QS Al Maidah: 5) dan wajarnya suatu kesempurnaan maka ia merupakan sesuatu yang tidak mudah, ia harus diperjuangkan dengan kesungguhan.

Islam merupakan diin yang mencakup aturan tentang badan maupun ruh.
Seimbang antara kewajiban pada diri sendiri, keluarga dan kewajiban pada masyarakat.
Perintah menegakkan sholat dilanjutkan dengan membayar zakat.
Keseimbangan hablu minAllah wa hablu minannaas.
Membutuhkan kemampuan fisik, harta, kekuasaan maupun kekuatan tekad ruh.
Ibadah kepada Allah dengan cara melayani Allah lewat pelayanan kepada ummat.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Allah tidak membebani seseorang kecuali sekadar yang ia mampu.
La yukallifullaha nafsan illa wus aha. Laha maa kasabat wa alaiha maktasabat.

Jika ada kesulitan maka di sana ada rukhshoh (kemudahan). Contohnya dalam ibadah sholat. Tidak bisa sholat sambil berdiri, bisa sholat sambil duduk. Tidak bisa sholat sambil duduk maka sholat dilakukan sambil berbaring. Bagi yang tidak bisa menggerakkan anggota badan maka sholat dapat dilakukan dengan memberi isyarat.

Mereka yang mampu harus berzakat atau menyembelih qurban. Sedang mereka yang tidak mampu maka berhak menerima zakat atau daging qurban.

Dienul Islam menciptakan peradaban masyarakat yang saling tolong menolong. Saling melengkapi. Peduli dan tidak cuek dengan kondisi lingkungan. Islam mendorong terciptanya sistem yang membantu mereka yang lemah agar mampu mencukupi kebutuhannya. Mendorong mereka yang mampu untuk menafkahkan sebagian hartanya untuk dishodaqohkan kepada yang membutuhkan. Mendorong sistem yang memberi kesempatan bagi mereka yang lemah, difabel agar mampu berdikari. Mencegah terjadi pendoliman dari yang kuat dan berkuasa kepada mereka yang rendah dan lemah.

Tetapi batasan akan kemudahan ini bukan seperti apa yang kita mau. Bukan berarti memboleh segala hal dengan alasan keterpaksaan yang dicari-cari. Tapi sampai batas pada apa yang kita mampu. Marilah kita persembahkan amal yang terbaik yang kita mampu.
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إِلا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima kecuali yang baik pula.” (HR Muslim)

وَلاَتَيْئَسُوا مِن رَّوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاَيَيْئَسُ مِن رَّوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقُوْمُ الْكَافِرُونَ {87}
“Dan jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Allah tidak melihat pada baju dan jasadmu tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu. Semoga segenap amal ibadah yang kita tunaikan diberi ganjaran Allah. Amin.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu