Wednesday, May 16, 2007

Pimpinan Pondok Assalaam


Telah lewat masa yg cukup panjang sejarah Assalaam dituliskan. Sejak berdiri tahun 1985 sampai 2007 berarti sudah 22 tahun Assalaam berdiri. Sepanjang perjalanannya Assalaam sudah berganti Pimpinan

KH Dalhari Nuryanto 1985-1987
KH Djamaluddin Abu Amar 1987 - 1990
KH Khozin Shiddiq 1990 – 1993
KH Djamaluddin Abu Amar 1993 – 1995
KH Khozin Shiddiq 1995 - 2000
H Ahmad Samsyuri MM 2000 – 2002
KH Khozin Shiddiq 2002 - 2003
H Ahmad Baidjuri 2003 - 2004
DR H Muinuddinillah MA 2004 – 2007

Tidak hanya struktur organisasi yang berubah saat pergantian pimpinan, namun bentuk organisasi pucuk pimpinan pun sempat berubah. Bahkan istilah pimpinan pun juga berbeda-beda.

- Pimpinan Pondok dengan dua Pembantu Pimpinan
- Pimpinan Pondok dengan satu Wakil Pimpinan
- Pimpinan Pondok dengan dua Wakil Pimpinan
- Tiga Serangkai Direktur dengan Direktur Pondok didampingi Pimpinan Pondok Putra dan Pimpinan Pondok Putri
- Mudir Ma’had dengan dua Wakil Mudir, Bidang Administrasi dan Keuangan serta Bidang Pendidikan dan Kesantrian
- Mudir Ma’had dengan satu Wakil Mudir

Tentu Daftar nama Wakil Pimpinan atau Pembantu Pimpinan Pondok lebih panjang. Apa lagi jika Sekretaris Pondok juga dihitung. Dalam perjalanannya ada beberapa Pimpinan Pondok mengganti Wakil atau Pembantunya saat periode kepemimpinan. Di antaranya ada yang mengundurkan diri sebelum masa jabatan berakhir (Ust H Wiranto).

Menurut catatan tak ada Pimpinan Pondok yg mengundurkan diri di tengah masa jabatan. Yang ada diganti setelah masa jabatan berakhir. Tapi yang paling sering adalah diganti sebelum masa jabatan berakhir. Dengan kata lain dicopot di tengah jalan.

Masa jabatan terpanjang adalah KH Khozin Shiddiq. Beliau juga pernah menjabat beberapa periode kembali setelah diganti.Hanya KH Djamaluddin Abu Amar almarhum mantan Pimpinan Pondok yg meninggal saat menjabat karena sudah sepuh. Artinya semua mantan pimpinan pondok masih hidup dan menyaksikan silih bergantinya pimpinan pondok.

Di samping Pimpinan Pondok ada lembaga yg disebut Dewan Kyai
Dulunya sih hanya Kyai Pondok saja karena cuma seorang yaitu KH Djamaluddin. Tapi setelah banyak sesepuh pondok maka kemudian dihimpun dalam Dewan Kyai.
Ketua Dewan Kyai kedudukanya sejajar dengan Pimpinan Pondok tapi tidak ada garis komando organisasi. Karena sejajar Dewan kyai lebih difungisikan sebagai penasehat pimpinan pondok. Kemudian pernah pimpinan pondok otomatis sekaligus menjabat ketua dewan kyai.

Pimpinan Pondok terakhir adalah Ust DR H Muinudinillah Basri MA didampingi Wakil Mudir Ust Kadarusman MAg. Beliau diberhentikan dari mudir sebelum genap tiga tahun menjabat. Otomatis Ust Kadarusman kemudian menjadi Pjs Mudir Ma'had sebelum ada penetapan baru dari Yayasan.

Memilih pimpinan pondok Assalaam sangat sulit. Kriterianya dipatok sangat tinggi. Tidak sembarang orang bisa jadi pimpinan. Selain karakter kuat dan performa meyakinkan juga harus punya sesuatu yg dapat diandalkan sehingga Yayasan pantas memilihnya. Background keluarga Yayasan juga mewarnai terpilihnya pimpinan pondok. Calon yg punya ide bersebrangan atau vokal terhadap Yayasan jelas akan disingkirkan.

Sulitnya memilih pimpinan juga menjadikan pergantian Pimpinan pondok tidak pernah mudah. Yayasan harus mengunakan alasan yg sangat kuat untuk mengganti pimpinan pondok. Alasan kuat ini kadang-kadang kesannya dicari-cari atau dipaksakan. Sering akhirnya fitnah yg tersebar karena tak ada pembuktian atas kesalahan atau kekurangan pimpinan pondok. Apalagi rapat pergantian pimpinan pondok selalu dilaksanakan tertutup. Hasil rapat yg berupa pencopotan juga tidak dikomunikasikan dengan cukup jelas. Hanya dugaan atau fitnah yg sering beredar kencang di kalangan bawah. Setiap kali pergantian pimpinan banyak beredar dugaan alasan pencopotan sesanter alasan seharusnya dipertahankan.

Meskipun yayasan memberikan alasan normatif atas digantinya Pimpinan Pondok sayangnya tak ada penjelasan yg memadai untuk memuaskan rasa keingintahuan alasan sebenarnya mengapa pimpinan pondok diganti atau dicopot. Tak ada dialog atau tanya jawab penyerapan aspirasi terbuka. Kenapa demikian, hanya Yayasan yang paling berhak menjawabnya.

Memperkarakan Pooling Santri; Mempertanyakan Aqidah?


ArtImage by Aris

Ketika pooling santri diadakan pada saat pencopotan Mudir Ma’had maka opini santri yg tergambar adalah nyata adanya. Ini bisa disimpulkan demikian karena santri relatif bebas dari tendensi uang atau kekuasaan. Mereka benar-benar menyuarakan pilihan yg ada dibenak atau sesuai dengan hati nurani. Jika kemudian disematkan pada mereka tuduhan bahwa mereka dipengaruhi oleh seseorang (Ust atau pembimbing) maka tuduhan itu jelas tendensius. Alih-alih mencari kebenaran, tuduhan itu dilontarkan justru berusaha mengaburkan fakta. Tuduhan itu dimaksudkan untuk pembelaan diri dalam upaya mengelak dari tanggung jawab.

Menurut teori jenis pertanyaan pada angket atau pooling ada tiga macam:
1. Pooling tertutup
2. Pooling terbuka
3. Campuran

Pooling tertutup ditandai dengan adanya pilihan jawaban yg sudah disiapkan. Pengisi pooling hanya bisa memilih dari pilihan yg ada. Yang jadi masalah adalah jika pengisi pooling tidak menemukan jawaban yg dikehendaki. Pada kasus ini maka ia bisa tidak memilih sama sekali. Kasus lain adalah jika ternyata peserta membuat pilihan tidak cuma satu. Dua atau beberapa item jawaban dipilih semua. Pembuat poling biasanya berusaha menangkap setiap kemungkinan jawaban yg perbedaanya signifikan. Analisa data menjadi mudah didapat dengan valid.

Pooling terbuka tidak memberikan pilihan item jawaban pada setiap pertanyaan. Masing-masing pengisi bisa mengisi secara bebas. Cara ini membuat hasil pooling jadi semakin variatif. Tentu konsekuensinya analisa data jadi semakin berat. Seringkali peneliti harus mengelompokkan jawaban yang senada. Kemudian jawaban minoritas dengan jawaban beragam kemudian digabungkan sebagai jawaban lain-lain.

Untuk memadukan kelebihan dari kedua jenis pooling ini maka peneliti biasanya membuat pooling campuran. Pada pertanyaan disiapkan jawaban dan jika pengisi pooling tidak setuju dengan semua jawaban maka disediakan kolom isian jawaban yg bebas diisi.

Pada kasus pooling yg dilakukan santri maka jenis pooling yg digunakan adalah pooling terbuka. Tentunya jawaban yg diberikan santripun sangat beragam. Untuk pertanyaan ‘Menurutmu bagaimanakah kriteria Mudir Ma’had yg ideal?’ maka jawaban santri menghasilkan berbagai kriteria yg kadang tak terduga oleh peneliti. Jika kemudian ada jawaban santri Yang seperti Ustadz Muin lebih banyak dari pada ‘Yang seperti Rasulullah saw’ maka sungguh bodoh menyimpulkan bahwa aqidah santri telah sesat. Apalagi ditambahi Ust Muin telah menyebarkan aqidah sesat di kalangan santri. Kesalahan berpikir ini karena menyimpulkan secara salah seolah santri lebih menghormati Ust Muin dari pada Rasulullah saw seperti hasil angket tersebut.

Beberapa hal yg perlu diluruskan disini adalah:
Pertama. Gambaran Ust Muin jelas lebih nyata sosoknya dari pada gambaran Rasulullah saw jika dipilih untuk memimpin Pondok. Maka wajar jika lebih banyak santri yg menyebut Ust Muin dari pada Rasulullah saw. Demikian pula tak ada yang menyebut SBY atau ketua Yayasan misalnya karena sosok itu tidak dikenal santri untuk dijadikan kriteria. Yang nyata lebih bisa dipilih dari pada yg abstrak.

Kedua. Sebagian jawaban santri ‘Yang seperti Rasulullah’ juga mengandung arti bahwa santri sebenarnya memimpikan sosok ideal. Tapi ini tingkatnya ‘mimpi’. Betapa sulit menghadirkan sosok ideal di zaman sekarang. Tidak mungkin menghidupkan kembali Rasulullah saw. Jikalaupun ada orang yg persis sama tentu kapasitasnya adalah pemimpin umat Islam sedunia bukan hanya untuk sekedar memimpin pondok.

Ketiga. Jawaban hasil pooling justru merupakan penghormatan terhadap Ust Muin karena masih dianggap sebagai sosok ideal untuk memimpin Assalaam. Beliau di mata santri merupakan wujud nyata yang disandingkan dengan kriteria seperti Rasulullah saw. Ust Muin berhasil menanamkan pengertian kepada santri bahwa kita semua harus berusaha menteladani Rasulullah saw. Ust Muin telah mencontohkan dirinya sendiri sebelum meminta santri mengikuti contoh akhlak Rasulullah saw. Sehingga wajar jika santri menemukan sosok ideal untuk ditauladani pada Ust Muin. Sosok yg seperti inilah yg pantas memimpin Assalaam.

Mungkin pooling santri ini bermakna politis. Tapi menyeretnya menjadi perkara aqidah adalah salah satu taktik cerdik (culas) yg dilakukan untuk membelokkan substansi permasalahan yaitu salah urus Assalaam. Wallaahu a’lam bishowaab.

Saturday, April 14, 2007

Peran penting Watatita

Anak-anak adalah aset dunia dan akhirat bagi orang tuanya. Sangat tidak layak jika membekali pendidikan mereka pada usia emas perkembangannya hanya dengan sisa-sisa waktu yang ada. Untuk itulah keberadaan wahana pendidikan sangat dibutuhkan sejak usia dini anak. Sebagai penitipan anak watatita mengedepankan pelayanan dan pendidikan anak yang berbasis nilai-nilai Islam. Ustadzah yang berputra usia prasekolah lebih tenang bekerja karena dapat tetap bertugas dengan baik di Assalaam dengan tetap memberikan pendampingan dan pengasuhan terbaik bagi putra /putrinya.
Dengan peran tersebut Watatita telah menjadi sarana mendukung terwujudnya peningkatan kesejahteraan bagi para pegawai Assalaam. Utamanya bagi pegawai yang memiliki putra berusia pra sekolah.
Nilai strategis Watatita menjadi lebih karena:

1. Lokasinya yang menyatu dengan komplek PPMI Assalaam memudahkan komunikasi antara anak dengan ibu dan memungkinkan pemberian ASI ekslusif untuk anak.

2. Memudahkan urusan antar jemput anak sesuai agenda kegiatan pondok dengan jam masuk dan pulang mengikuti aturan pondok.

3. Kurikulum yang diberlakukan Watatita mengacu pada nilai-nilai Islam dan kepondokan. Ini sebagai tanggungjawab moral bagi Watatita untuk mendidik sesuai sunnah Rasulullah:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh, orang tuanyalah yang menjadikan Nasrani, Yahudi atau Majusi” (HR Bukhori dan Muslim)

Peran Watatita telah terbukti dengan respon positif ditunjukkan dari semakin banyaknya Ustadzah yang memanfaatkan layanan dalam dua tahun ini. Beberapa masukan dan usulan semuanya mengacu agar Watatita tetap eksis dan lebih meningkatkan mutu layanannya. Untuk itulah maka Watatita akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pondok.

Beberapa kendala yg dihadapi di lapangan antara lain:

1. Rasio anak dan pengasuh yg terbatas jumlahnya sehingga perlu penambahan jumlah pengasuh. Tentunya rekrutmen pengasuh baru tidak mudah apalagi yg bisa diandalkan bisa mengembangkan Watatita menjadi KB dan TK.

2. Lokasi dan prasarana yg belum mencukupi terutama untuk program pengembangan KB dan TK. Usulan punya lokasi 'rumah' sendiri mustahil terwujud tanpa restu dari Yayasan.

3. Legalitas pembentukan KB dan TK yang belum ada baik dari Yayasan apalagi dari Diknas. Tanpa legalitas ini maka siap-siap saja jika Watatita digusur-gusur.

4. Kondisi keuangan yang masih harus disubsidi. Ini membuat neraca keuangan jadi tidak sehat.

Untuk itulah Litbang Assalaam berusaha terus mendorong tumbuh kembangnya Watatita. Dukungan dan bantuan dari pihak manapun sangat diharapkan.

Friday, April 13, 2007

Kado Buat Sahabat


Artikel ini adalah draft saat saya diminta oleh mahasiswa UMS untuk membedah buku Kado Buat Sahabat karangan Izzatul Jannah. Pengarangnya sendiri, bu Intan Savitri, berhalangan hadir karena ortunya sakit maka Istri saya diminta menggantikan. Selanjutnya Istri malah melempar ke saya, walaah

“Bukunya asyik banget deh. Ngeyakinin kita kalo persahabatan itu penting. Cocok banget kalo kamu hadiahin ke sahabat kamu sambil bilang kalo kamu sayang dia karna-Nya... “ (Rifzahra)


Di antara beberapa buku karangan Izzatul Jannah buku ini termasuk yang dibuat berseri. Tidak kurang dari 5 buku karangan penulis produktif ini dibuat berseri dibawah Eureka lini penerbit Era Intermedia. Formatnya yang mungil pas di saku (baik bentuk maupun harga) buat para remaja yg jadi sasaran pembaca. Gaya bahasa yg ringan n gaul dipilih tanpa kehilangan bobot isinya. Beliau adalah pendiri Forum Lingkar Pena atau FLP Solo dengan produktifitas tulisan yang luar biasa. Kita tahu kalau Indonesia masih tergolong rendah dalam baca tulis. Pada tahun 1996 jumlah buku yg terbit hanya 6.000 judul padahal penduduk Indonesia sudah mencapai 200 juta, kalah jauh dibandingkan dengan Amerika dengan 100.000 judul dan Inggris 61.000 judul. (Kompas, 25 September 1996). Namun demikian perkembangan FLP dengan genre buku novfis untuk teenlit yang awalnya digagas Helvy Tiana Rosa ini cukup menggembirakan. Puluhan ribu penulis baru muncul dengan ribuan judul buku telah terbit sampai saat ini.

Kado Buat Sahabat ini awalnya dibuat penulis untuk mengisi rubrik majalah Karima (alm) saat beliau aktif sebagai Pimred. Karena sayang jika hilang begitu saja maka diterbitkanlah menjadi serial buku tentunya dengan format dan tampilan yang lebih keren. Contohnya pada pembukaan buku yang dibuka dengan kartun. Wow… sesuatu yg bisa dibilang sangat inovatif pada jamannya. Komik dan tulisan diramu jadi satu.

Yang membuat bacaan Teenlit ini patut dibaca dan dikoleksi adalah kentalnya ajaran Islam yg menjadi pijakan. Islam adalah solusi kehidupan terpapar dengan cerdas. Misalnya di Bab 1 memuat tak kurang dari 10 ayat dan hadits. Ayat dan hadits disandingkan dengan kata-kata bijak bernas lainnya. Tampak latar belakang penulis sebagai aktifis harokah mewarnai buku karangannya ini. Tetapi meskipun begitu, materi berat disusun dengan ramuan kata-kata gaul pas buat remaja. Sedemikian khas racikannya sehingga unik dan sulit untuk ditiru begitu saja oleh penulis-penulis lain.

Saya pernah diminta membuat karangan yang ditujukan untuk santri-santri yg juga remaja. Ternyata tidak mudah menyusun karangan seperti gaya Izzatul Jannah. Apa yang saya hasilkan cenderung menjadi bacaan ‘dewasa’. Gayanya lebih mirip seseorang sedang memberi ceramah. Atau lebih tepatnya karangan gaya pidato seorang guru agama dimimbar yg lupa bahwa apa yang ia sampaikan bergaya menggurui. Jadi saya sangat menyadari betapa tidak mudah membuat bacaan untuk remaja apalagi jika isinya harus tetap berbobot.

Menurut arikel yang pernah saya temui di internet untuk mencapai ketrampilan penulis heboh semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

1. Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, penulis harus terlebih dulu "memelihara" keingintahuannya sendiri akan suatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

2. Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang "rumit" dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

3. Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang "sastrawi" jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).
Menulis catatan harian seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam akan mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya. Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah saja melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

4. Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang "berkacamata kuda". Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut, nasyid sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana saja.

Menurut Hernowo: Intelektual Indonesia itu sebenarnya hebat. Mereka pandai ngomong dan, kadang, memiliki banyak sekali gagasan. Sayangnya, mereka tak piawai menulis. Ketakpiawaian menulis ini menyebabkan gagasan-gagasan hebat milik mereka mudah terbawa angin dan akhirnya tidak mampu memberdayakan mereka. Kalau toh kemudian mereka menulis, maka tulisan mereka kering dan tidak mudah dibaca oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Friendship’s Kudo
Tema yang diangkat adalah seputar persahabatan atau Friendship sangat lekat pada dunia remaja. Menurut psikolog, remaja tidak lepas dari peer group. Remaja akan lebih terbuka dengan teman dari pada dengan orang tua apalagi guru. Teman yang sangat akrab atau sahabat biasa menjadi tempat curhat. Tak jarang tidak adalagi rahasia di antara sahabat. Khususnya buat cewek maka kebutuhan tempat curhat ini sudah seperti makanan pokok.

Sahabat bisa ditemukan dari sekolahan maupun di kampung. Biasanya karena ada kesamaan dan interaksi yg intent. Persahabatan masih bisa dijalin meski saling berjauhan.
Jaman dulu ada sahabat pena. Persahabatan yg dijalin dengan surat-suratan. Kemudian muncul HP maka digunakanlah sms untuk bertukar kabar dan segera disusul videophone menggunakan 3G. Di era internet ada email dan yg terakhir ada ☺Friendster. Jaringan pertemanan di dunia maya yg sedang ngetren abis. Sampai-sampai kita bisa berteman kepada seseorang yg sama sekali belum pernah bertemu. Perkembangan teknologi menciptakan kemudahan dan alternatif dalam berhubungan satu dengan yg lain. Pada satu sisi teknologi merupakan solusi berbagai permasalahan tapi ia juga menyimpan permasalahan pada sisi yg lain.

Pada kekuatan yg besar tersimpan tanggungjawab yg besar pula.
(Nasehat Uncle Ben kepada Spiderman sebelum meninggal)


Masalahnya persahabatan yg dijalin kadang justru mendatangkan masalah pelik. Tak jarang bukan kebaikan tapi justru kemadhorotan yang didapat. Kurangnya pertimbangan dan terlalu emosi menjadi dasar kecerobohan. Karena tidak obyektif lagi seseorang bisa membela sahabatnya dalam segala tindakan dan pilihannya. Bahkan sahabat akan dibela meski melakukan kesalahan. Kalu yg begini bukan tipe sahabat yg baik lho…

Persahabatan juga bisa menjerumuskan seseorang kepada kehancuran jika ia tidak pandai memilih pergaulan. Untuk itu ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Dan ajaran Islam telah memberi resep yg tak pernah ketinggalan zaman. Menurut sabda Nabi:” Seseorang itu sejalan dan bergaya hidup seperti sahabatnya, maka hati-hatilah dalam memilih sahabatnya”. Dalam hadits lain beliau menyampaikan:”Sebaik-baik sahabat adalah apabila engkai khilaf maka ia akan mengingatkanmu, dan apabila kamu ingat ia akan membantumu”.

Monday, April 09, 2007

Lagi Pimpinan Pondok Assalaam diganti


Direktur Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Dr M Muinudinillah Basri MA dicopot, menyusul keputusan rapat pleno Yayasan Majelis Pengajian Surakarta (MPS) tanggal 2 April 2007 lalu. Berita selengkapnya silahkan klik: Suara Merdeka, Rabu 4 April 2007

Tak sulit menduga bahwa kepemimpinan Ust Muin tak akan bertahan lama. Alasannya? Jam terbang Ust Muin di luar Assalaam yg begitu tinggi baik sebelum menjadi Mudir sampai sekarang(Dosen tetap Program Magister UMS, Dewan Syariah PKS Pusat). Beliau juga tidak tinggal di Assalaam serta santernya isu adanya friksi dengan Yayasan sudah cukup membuat prediksi bahwa Assalaam akan ganti pimpinan lagi. Yayasan tidak mbelani, beliau juga tak punya interest untuk ngotot bertahan dengan kondisi seperti ini.

Kapasitas beliau sungguh sangat tinggi. Doktor Syariah lulusan Medinah, hafidz Alqur'an, setiap khutbah selalu menggugah. Jadi pasti sulit mencari ganti dengan kapasitas yang sepadan.

Masa kepemimpinan Beliau yg dimulai pada Desember 2004 sampai 2 April 2007 sesungguhnya sangat singkat. Beberapa perubahan struktural telah dilakukan seperti menggabungkan Unit Kesantrian ke Unit Sekolah, berdirinya LZIS Assalaam dan Syirkah Taawuniyyah. Juga menggabungkan kembali 'Assalaam Cattering and Resto' kembali menjadi Unit Dapur Assalaam.

Selamat jalan Ust Muin... kebersamaan singkat ini semoga tak terlupakan.