Showing posts with label Islamic Thought. Show all posts
Showing posts with label Islamic Thought. Show all posts

Saturday, January 24, 2009

Filosofi Tembang Lir Ilir

Sawah

Tembang syarat makna berikut ini konon gubahan Sunan Kalijogo, Wali Songo yang paling tinggi jiwa seninya. Syair ini sering ditembangkan di pesantren salaf. Kadang diselang - seling dengan sholawat nabi dengan intonasi dan alunan nada yang sama. Syair ini maknanya tinggi dengan alunan syair yang menentramkan hati.

Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo

Terjemahan bahasa Indonesia dari syair diatas kira-kira adalah demikian:
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai gembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Syair di atas tidak menuliskan: “Wahai Raja”, "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon...". Ini menunjukkan bahwa syair ini ditujukan juga bagi wong cilik, orang kebanyakan. Karena sesungguhnya orang kebanyakan pun mempunyai tanggungjawab atau amanah sendiri-sendiri. Kullukum roin wa kullukum mas’ulum ‘an roiyatih. Ro’in sendiri dalam bahasa arab biasa diartikan sebagai gembala. Masa kecil Rasullah juga seorang gembala. Orang kecil yang mempunyai amanah yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Harus dipanjat dengan hati-hati untuk memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan. Ini menjaga kelangsungan dari berkah sang pohon blimbing agar tetap bisa memberikan buahnya di masa yang akan datang.

Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Karena mengandung sifat asam kuat maka baju yang dicuci dengan air blimbing dapat menjadi bersih kembali seperti baru.

Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi masyarakat Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Pakaian juga berarti perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan jiwa adalah perhiasan takwa. (fa ta zawwaduu fa inna khoiro zaadi taqwa). Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.

Pakaianmu, (yaitu) agamamu atau akhlakmu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki). Rusak di pinggir-pinggir artinya bukan rusak total tetapi kurang sempurna. Jadi syair ini menuntun kita untuk menyempurnakan agama dengan keimanan dan ketakwaan yang sempurna pula. Udkhuluu fi silmi kaaffah. Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri. Menghinakan diri sendiri.

Pakaian yang robek-robek ini perlu diperbaiki sebagai bekal menghadap Robbmu yang Maha sempurna. Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama compang-camping oleh maksiat yang masih dilakukan. Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat. Bersemangat dan optimislah. Selagi hidayah Allah masih bisa diraih. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Alloh.

Tugas Kuliah Pasca Pak Sabar Narimo

Tuesday, January 29, 2008

Demokrasi Parlemen = Medan Perang Jihad Terkini di Indonesia

Demokrasi parlemen seperti medan perang. Pemenang perang bukanlah mereka yang paling benar. Bisa jadi mereka yang batil bisa menang. Karena dalam medan perang maka mereka yang paling siap dengan pasukan dan strategi perang serta benar-benar berjuang secara sungguh-sungguh yang akan menang. Sehingga tidak kemudian karena kalah perang maka umat Islam berarti salah dan batil. Juga tidaklah karena sering kalah maka kewajiban berperang (jihad) menjadi haram. Kewajiban jihad tetap ada meskipun umat Islam kalah di medan jihad.

Demikian pula demokrasi dengan medan tempurnya adalah parlemen. Perjuangan menegakkan syariat Islam juga harus ada di sana. Jika tidak ada pejuang Islam di parlemen maka hukum Islam akan disingkirkan. Penguasa dholim enak saja mengesahkan prostitusi dan terus korupsi dengan aman. Bahwa sering kalah dalam voting (di parlemen) bukanlah menjadi alasan bahwa dakwah di parlemen menjadi haram.

Janganlah menghujat mereka (anggota parlemen) yang telah berjuang (dan kalah) waktu berdakwah di parlemen lewat partai Islam. Kenyataannya demokrasi adalah metoda atau cara yang saat ini ada dan bisa dipakai (available) untuk memperjuangkan Islam. Inilah medan jidah terkini di Indonesia untuk menegakkan syariah Islam. Jika ada cara lain (misalnya revolusi) dan bisa dilakukan (kondisi mayarakat mendukung) maka bolehlah (bahkan wajib) meninggalkan cara demokrasi. Ini sama dengan meninggalkan medan perang yang satu karena strategi (misalnya agar memenangkan di medan perjuangan yang lain) bukan karena pengecut lari dari medan jihad.

Jangan keburu melabeli demokrasi sebagai sistem haram. Ini sama dengan melabeli semua Pak Lurah dan Pak Camat (yang dihasilkan dari pemilihan = demokrasi) sebagai Thogut. Semantiknya (Lurah dan Camat) memang tak ada dalam sunnah (seperti juga demokrasi parlemen). Tapi realitasnya ia ada di sistem pemerintahan di Indonesia saat ini. Jika Lurah atau Camat berusaha menegakkan syariat Islam maka ia bukan thogut dan wajib didukung. Umat Islam mestinya berjuang agar seluruh Lurah dan Camat di lingkungan masing-masing berasal dari umat Islam dan berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Jangan malah lari dari pemerintahan (tidak ikut memilih atau mencalonnkan diri) dan cuma berkoar-koar di masjid. Untuk itu ya pasti masuk dalam sistem pemerintahan daerah. Ikut pilihan Lurah dan Camat (meskipun mungkin hasilnya kalah). Jika ada kesempatan dan kekuasaan (karena jadi Lurah atau Camat) sehingga bisa merubah atau membuat undang-undang dan peraturan maka gunakan untuk menegakkan syariat bukan menghalangiya. Bahkan jika suatu saat nanti sistem pemerintahannya bisa diubah (secara bertahap namun pasti) sehingga sesuai dengan sunnah nabi menjadi daulah Islam maka gunakan kesempatan itu, mengapa tidak.

Baca lebih lanjut tentang demokrasi di demokrasi.tk

Friday, July 27, 2007

Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga


Paradigma keren tapi berbahaya

Tidak mudah mengurai permasalahan dunia pendidikan. Khususnya ditinjau dari tujuan pembentukan kepribadian dari anak didik. Permasalahan ini muncul dan semakin komplek justru sejalan dengan semakin tingginya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan iptek yang menyediakan kemudahan dan memunculkan beragamnya pilihan menyembunyikan sisi kelam dalam ikut membentuk karakter siswa didik.
Kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan teknologi menghasilkan perubahan yang cepat di segala bidang tidak kemudian memuluskan jalan untuk membentuk kepribadian unggul siswa. Meski ilmu pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan produktifitas menjadi semakin mudah diajarkan berkat perangkat yang semakin canggih, namun karakter anak yang terbentuk justru semakin buruk. Manja, ceroboh, tidak konsisten, rapuh dan sulit bertahan dari gempuran masalah mejadi karakter dasar sebagian besar siswa jaman sekarang.

Akar permasalahan
Berkembangnya teknologi informasi melahirkan media yang mengglobal.
Sayangnya media cenderung menyajikan gambaran dengan penyerderhanaan yang menipu. Mudah, enak dan segera. Industri yang menyokong media dengan dana iklan hanya membutuhkan produknya laku. Untuk itu isi media harus mengikuti selera pasar.
Pembaca dan pemirsa sudah diposisikan menjadi penikmat sehinga sajian ringan dan menghibur model infotaiment lebih ditonjolkan. Kalau perlu pemirsa tidak usah berfikir. Acara diprogram semakin heboh, semakin gila-gilaan agar semakin menarik dan meningkatkan rating. Dan rating tinggi itu menghasilkan slot iklan yang mahal. Sifat konsumtif, maunya enak dan dunia glamor menjadi sajian wajib hampir seluruh stasiun TV saat ini. Sifat primitif mengumbar nafsu manusia dieksploitasi. Sajian kekerasan, erotisme, mistik, hura-hura atau lawak gila-gilaan dan berbagai perilaku rendahan menjadi lazim ditampilkan.

Sifat masif dari media seperti TV memberikan dampak yang tidak terkira bagi institusi pendidikan. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan di kelas seringkali bersebrangan dengan nilai-nilai yang tersaji di TV yang setiap hari mereka tonton. Lihatlah dampak yang terjadi pada sebagian besar prilaku generasi muda. Para remaja yang maunya serba instan. Ingin kaya tapi berprilaku boros dan sama sekali tidak produktif. Banyak kemauan tapi miskin usaha. Maunya lulus dengan nilai tinggi tapi malas belajar. Pingin masuk surga tapi jalan maksiat yang ditempuh. Jargon muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga menjadi absurd dan sangat naif. Mirip dengan kebanyakan film atau sinetron di TV, meskipun menyajikan konflik yang mencekam tapi pasti berlalu dengan hapy ending. Seringkali hanya dalam durasi kurang dari 2 jam segala permasalahan selesai dihadapan pemirsa.

Mumpung masih muda, kita gunakan untuk bersenang-senang. Tak kalau sudah tua barulah bertobat. Ini angapan yang sungguh naif. Tidaklah demikian kenyataannya. Allah maha adil untuk tidak begitu saja memberikan segala yang dimaui anak Adam kecuali dengan usaha dan pengorbanan yang tidak kecil.

Betapa banyak orang gagal bertaubat karena terlanjur abis kesempatan baginya. Seperti kisah Firaun yang bertaubat saat nyawa sudah ditengorokan. Taubat seperti ini adalah taubat terpaksa yg tak mungkin diterima. Atau bertaubatnya Suharto setelah lengser. Tentu saja taubat ini sia-sia karena tidak mengasilkan apa-apa bagi jutaan orang lain yg telah jadi korban rezimnya. Kesempatan tidak datang begitu saja. Ia harus diperjuangkan. Sabda Rasulullah yang didendangkan dengan apik oleh Raihan: Ingatlah lima sebelum datangnya lima! Sempatmu sebelum sempitmu, mudamu sebelum tuamu, kayamu sebelum miskinmu, sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.

Betapa banyak orang gagal berhenti dari kebiasaan buruk meski menurutnya telah berusaha keras. Gagal menghilangkan kebiasaan merokok. Gagal meghilangkan kebiasaan dugem. Ini karena sifat dosa yang menjebak sehingga tidak mampu keluar daripadanya. Sedikit demi sedikit semakin terperosok dalam jebakan setan. Dari merokok terjerumus narkoba. Dari dugem terjerumus pergaulan bebas. Seperti pepatah: kebohongan pertama akan melahirkan kebohongan selanjutnya untuk menutupinya. Kemaksiatan yang dinikmati akan melahirkan kemaksiatan berikutnya.

Karena hati manusia ibarat kaca. Jika ia berbuat dosa sekecil apapun maka akan timbul noda. Jika diulang-ulang maka semakin banyak noda yang akhirnya membuat gelap hati. Gelap hati akan mustahil mendapatkan hidayah. Sedangkan mereka yang bersungguh-sungguh mencari hidayah saja belum tentu mendapatkannya. Betapa banyak ujian berat yang mesti dihadapi untuk membuktikan keimanan seseorang. Dan tidak sedikit manusia gagal menghadapinya.

Sekolah yg terjepit
Perjalanan menuju kesuksesan nyatanya harus ditempuh dengan susah payah dan penuh pengorbaan. Butuh keahlian, waktu lama dan kesabaran yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita. Untuk itu dibutuhkan karakter unggul yang mencetaknya tidak mudah. Pendidikan yang hanya mencekoki siswa dengan informasi lewat pengajaran di kelas tidak akan membentuk kepribadian ini. Sekolah yang hanya mengajarkan tips-tips cepat mengerjakan soal sering terjebak justru menanamkan karakter meremehkan segala sesuatu pada siswa-siswanya. Etos belajar dan berprestasi menjadi rendah. Akhirnya nilai siswa yang jeblok terpaksa didonkrak agar bisa lulus dengan nilai tinggi. Mau bagaimana lagi. Jika banyak siswanya tidak lulus tentu sekolah akan diragukan dan dianggap bermutu rendah.

Sekolah yang berusaha menanamkan nilai nilai kejujuran, keuletan dan kerja keras menjadi terasing. Guru menjadi tampak reseh, tidak gaul dan kuno dihadapan siswa. Bahkan tidak sedikit institusi pendidikan terhanyut oleh arus deras modal yang sangat kosumtif. Tidak terkecuali sekolah-sekolah berlabel Islam. Siswa dimanjakan dengan fasilitas kemudahan yang berujung pembiayaan yang tinggi. Siswa yang disekolahkan model seperti ini akan menagih guru seolah saya telah membayar mahal maka layani saya seperti yang saya mau. Standar pendidikan dinilai dari seberapa enak layanan diberikan pada siswa.

Jalan panjang pembentukan karakter
Untuk membentuk karakter seseorang maka diperlukan waktu lama dan kesabaran. Bagaikan mengukir di atas batu, kadang dibutuhkan pemaksaan diri. Pemaksaan diri yang berbuah kebiasaan baik harus dipupuk sejak belia. Masa remaja adalah kesempatan emas yang jangan sampai disia-siakan. Seperti pepatah pohon kecil yang bengkok bisa diluruskan, tetapi pohon besar hanya bisa ditumbangkan dengan kapak. Sayangnya keadaan yang memaksa ini tidak bisa terus dipertahankan dalam jangka lama. Pemaksaan diri harus diimbangi dengan penanaman pemahaman tentang maksud dan tujuan dari pemaksaan tersebut. Kegagalan lembaga pendidikan menjelaskan pemaksaan diri ini bisa berakibat siswa memberontak atau putus asa.

Lembaga pendidikan harus terus menciptakan suasana belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan siswa-siswanya. Kemampuan yang harus menjadi prioritas adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah riel di lapangan. Kemampuan ini harus terus diasah untuk menjadi bekal menghadapi permasalahan lebih besar nanti saat terjun di masyarakat. Tanpa potensi yang terasah mumpuni maka seseorang akan mudah tergelincir untuk menyerah dan mengambil jalan salah. Potensi yang diasah meliputi pengetahuan, pemahaman maupun kemampuan untuk berealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan. Tentu bukan hanya dalam tataran teori yang ditandai dengan lancarnya siswa menjawab soal multiple choice yang disodorkan di meja ujian.

Lembaga pendidikan harus menyediakan sistem Islami yang berlapis-lapis dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk saling beramar makruf nahi mungkar. Ibarat pertahanan yang berlapis maka jika suatu saat jebol maka lapis berikutnya masih bertahan. Untuk itu maka kebutuhan untuk membina jamaah menjadi sangat penting. Jamaah yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Tidak hanya kurikulum pendidikan di kelas, tetapi sistem organisasi, sistem sosial, nilai-nilai yang ditanamkan dan prilaku yang ditunjukkan semua lapisan harus sejalan dengan ajaran Islam. Guru di kelas harus jadi guru di masyarakat. Artinya seorang guru harus menjadi guru kehidupan bagi siswa-siswanya.

Sunday, January 21, 2007

Menyempurnakan Taqwa dalam Keadaan Bagaimanapun

Khutbah Iedul Adha 1427H di YPAC Surakarta
Oleh: Ust. Aris Hanafiyah, ST.

Alhamdulillah, nahmaduhu wa nastainuhu, wa naudzubillahi min sururi a’malina.
Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah atas segala rahmat dan hidayahNya.
Marilah kita rayakan hari yang sangat mulia ini. Bersama jutaan kaum muslimin yang berhajji berkumpul di Baitullah Makkah mukarromah memenuhi panggilan Allah. Kita agungkan Allah dengan bertakbir, bertahlil dan bertahmid memujiNya.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Hari raya ummat Islam Iedul Adha ditandai dengan sholat Ied di tanah lapang kemudian dilanjutkan dengan berqurban. Dari asal kata Qoruba-yakrubu-qurbanan yang artinya mendekat /pendekatan. Dalam pengertian agama: Qurban berati: Usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih binatang ternak yang dilaksanakan sesuai tuntunan semata-mata untuk mencari ridho Allah.

Keutamaan berqurban sangatlah mulia. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
“Tidak ada amalan ibadah lain yang dilakukan oleh manusia yang Allah lebih cintai di hari nahr (Iedul Qurban) selain menyembelih binatang kurban. Sesungguhnya hewan-hewan kurban itu pada hari kiamat kelak akan datang beserta dengan tanduk-tanduknya, bersama dengan bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan pahala qurban itu.” (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Al Hakim)
Rasulullah juga memberikan ancaman bagi mereka yang enggan berqurban:
“Barang siapa mempunyai kesempatan (kemampuan) untuk berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya, maka janganlah ia dekat-dekat ke tempat sholat kami”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Huroiroh)
Qurban adalah bukti nyata ketaqwaan:
لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {37}
“Tidak sampai daging-daging itu kepada Allah, juga tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepa Allah adalah ketakwaan kalian. Demikian Allah memudahkan bagimu agar kamu dapat mengagungkan asma Allah atas segala hidayahnya dan agar kamu memberi kabar gembira bagi orang-orang muhsin”.(QS. Al Hajj: 37)

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Lewat mimbar mulia ini, kami ajak seluruh hadirin juga pada diri saya sendiri: Marilah kita bertaqwa dengan sesungguhnya taqwa. Jangan sampai kita mati kecuali sebagai seorang muslim.

Jebakan untuk tergelincir sangatlah banyak. Dunia yang sudah tua ini penuh dengan godaan. Ia akan selalu membuat tergelincir mereka yang lengah. Marilah kita coba meneladani Nabi Ibrohim as Kholilullah dalam mensikapi dunia saat perintah Allah datang mengujinya. Manusia agung pilihan Allah, Ibrohim menerima ujian yang maha berat. Ujian untuk menjadi teladan manusia sepanjang jaman.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا(125)
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlash menyerahkan diri kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibramin yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya”. (QS. An Nisa’: 125)
Peristiwa penuh hikmah ini diabadikan dalam Alqur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ {102}
“Dan ketika anak itu sampai umur (sehingga ia bisa berjuang bersama Ibrahim), (Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu". Ismail menjawab: "Wahai Bapakku, Kerjakan apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang yang bersabar.”(QS Ash Shofat 102)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Marilah terus tingkatkan ketaqwaan kita. Bertaqwa tanpa cari-cari alasan untuk menghindar. Entah alasan malas. Tidak menguntungkan bisnis (maka karyawan tidak diberi kesempatan cukup untuk sholat). Tidak produktif. Atau bahkan alasan bahwa ibadah itu tidak masuk akal sekalipun.

Nafsulah yang menyebabkan manusia tergelincir.
إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
"Sungguh nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan."(QS. Yusuf: 53)
Nafsu yang dibenarkan oleh akal manusia. Dengan berbagai alasan untuk menolak atau menyepelekan perintah Allah. Sholat dianggap meboroskan waktu. Jihad fi sabillah dicap teroris. Qurban dianggap ritual kuno dan tak ada untungnya. Haji dianggap perjalanan sia-sia dan membuang uang. Naudzu billahi min dzalik.

Tak terkira jumlah orang yang berakal pandai. Sederet gelar disandang tapi tidak mendekatkan pengetahuannya pada makrifat pada Allah. Segudang uang di tumpuk, tapi tidak membuatnya sadar bahwa ada hak orang miskin (zakat-shodaqoh) yang harus ditunaikan. Semakin banyak harta justru semakin miskin jiwanya. Kesempatan dan kesehatan dan kesempurnaan jasmani tidak membuatnya penjadi hamba allah yang paling bertakqwa yang berdiri paling depan mengemban dakwah jihad fi sabillah, tapi justru menjadi hamba nafsu. Betapa mereka yang cantik dan rupawan tapi hatinya kosong dan terjerumus pada penghambaan pada nafsu. Mereka yang sempurna jasadnya dan menjadi pujaan idola manusia tetapi dimata Allah mereka makhluk yang hina. Derajatnya lebih rendah dari binatang. Karena kelakuannya menang kelakuan rendahan.
Laqod kholaqnal insana fi ahsani takwiim tsumma rodadnahu as fala saafiliin.
“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, lalu kemudian kami kembalikan derajat mereka ketempat yang paling rendah.”
(QS At Tiin: 4)

Sungguh segala yang ada di dunia ini fana. Maka jangan sampai kita tertipu dengannya.
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “ (QS. Al Hadiid: 20). Carilah kehidupan akhirat. “Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal.”(QS. Al A’la:17)
Dengan berbagai ujian yang menimpa, bencana, kesulitan, kekurangan dan godaan. Bersyukurlah kita masih diberi nikmat Allah yang paling berharga. Nikmat Iman dan Islam.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
Islam adalah diin sempurna (QS Al Maidah: 5) dan wajarnya suatu kesempurnaan maka ia merupakan sesuatu yang tidak mudah, ia harus diperjuangkan dengan kesungguhan.

Islam merupakan diin yang mencakup aturan tentang badan maupun ruh.
Seimbang antara kewajiban pada diri sendiri, keluarga dan kewajiban pada masyarakat.
Perintah menegakkan sholat dilanjutkan dengan membayar zakat.
Keseimbangan hablu minAllah wa hablu minannaas.
Membutuhkan kemampuan fisik, harta, kekuasaan maupun kekuatan tekad ruh.
Ibadah kepada Allah dengan cara melayani Allah lewat pelayanan kepada ummat.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Allah tidak membebani seseorang kecuali sekadar yang ia mampu.
La yukallifullaha nafsan illa wus aha. Laha maa kasabat wa alaiha maktasabat.

Jika ada kesulitan maka di sana ada rukhshoh (kemudahan). Contohnya dalam ibadah sholat. Tidak bisa sholat sambil berdiri, bisa sholat sambil duduk. Tidak bisa sholat sambil duduk maka sholat dilakukan sambil berbaring. Bagi yang tidak bisa menggerakkan anggota badan maka sholat dapat dilakukan dengan memberi isyarat.

Mereka yang mampu harus berzakat atau menyembelih qurban. Sedang mereka yang tidak mampu maka berhak menerima zakat atau daging qurban.

Dienul Islam menciptakan peradaban masyarakat yang saling tolong menolong. Saling melengkapi. Peduli dan tidak cuek dengan kondisi lingkungan. Islam mendorong terciptanya sistem yang membantu mereka yang lemah agar mampu mencukupi kebutuhannya. Mendorong mereka yang mampu untuk menafkahkan sebagian hartanya untuk dishodaqohkan kepada yang membutuhkan. Mendorong sistem yang memberi kesempatan bagi mereka yang lemah, difabel agar mampu berdikari. Mencegah terjadi pendoliman dari yang kuat dan berkuasa kepada mereka yang rendah dan lemah.

Tetapi batasan akan kemudahan ini bukan seperti apa yang kita mau. Bukan berarti memboleh segala hal dengan alasan keterpaksaan yang dicari-cari. Tapi sampai batas pada apa yang kita mampu. Marilah kita persembahkan amal yang terbaik yang kita mampu.
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إِلا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima kecuali yang baik pula.” (HR Muslim)

وَلاَتَيْئَسُوا مِن رَّوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاَيَيْئَسُ مِن رَّوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقُوْمُ الْكَافِرُونَ {87}
“Dan jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Allah tidak melihat pada baju dan jasadmu tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu. Semoga segenap amal ibadah yang kita tunaikan diberi ganjaran Allah. Amin.

Allahu akbar… Allahu akbar … laa ilaaha illallaah huallahu akbar
Allahu akbar wa lillahil hamdu

Tuesday, September 05, 2006

Homeschooling Ala Pesantren

Berikut adalah makalah hasil dari mengikat makna dengan copy paste. Maunya artikel ini buat Warta Assalaam. Setelah editan pertama jadinya draf tulisan yg masih loncat-loncat ndak karuan. Maklum sumber data berserak dari beragam artikel yg dicopy paste. Waktu kuminta editor Warta untuk membaca jelas saja protes. Artikelnya terkotak-kotak... tolong diedit dulu...


Homeschooling ala pesantren
Setiap orang tua menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Berbagai jenis sekolah saat ini telah muncul bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya. Ada yg memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, ruang kelas ber-AC, hingga sekolah yg mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Diknas.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak kunjung bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan. Baik karena mutu pendidikan yang rendah, kemerosotan akhlak siswa, juga ketidakmampuan lulusan sekolah dalam menghadapi realitas permasalahan di lingkungan masyarakat. Betapa banyak anak sekolah justru menjadi anggota geng kenakalan remaja, tawuran, dan mengkonsumsi narkoba lewat pergaulan sesama teman sekolah. Banyak pula lulusan sekolah justru menjadi penganggur karena sekolah lebih mengajarkan keseragaman dan bukan kreatifitas. Pakar pemasaran Jack Trout, pernah menulis buku yang sangat berpengaruh, Differentiate or Die yang menegaskan bahwa di era saat ini perbedaan adalah sangat penting dalam berkompetisi. Tanpa ada pembedaan maka produk akan mudah dilupakan konsumen. Demikian pula keseragaman yg dibentuk sekolah justru akan mematikan potensi siswa untuk kreatif dan survive dilapangan yg penuh persaingan.

Mendidik Tidak Sama dengan Menyekolahkan
Berbincang masalah homeshooling maka topik pertanyaan kini bergeser. Dari mempertanyakan legalitas lulusannya kepada pertanyaan yang lebih esensial, mampukah orangtua mendidik anaknya sendiri sebaik pendidikan formal? Ini karena undang-undang pendidikan saat ini telah mengakui pendidikan luar sekolah tidak saja dapat menjadi pelengkap namun juga dapat menggantikan pendidikan sekolah. Tinggal seberapa kesiapan orangtua mendidik anak-anaknya.

Di samping alasan tidak puas dengan hasil pendidikan sekolah saat ini, alasan kendala jarak, atau keinginan agar orang tua lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada pertimbangan lain yang menarik yaitu keinginan menanamkan nilai-nilai Islam sesuai keinginan orangtua. Ketiadaan jaminan bahwa anak dididik di sekolah sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai orangtua membuat sebagian orangtua bersikeras mendidik anaknya sendiri di rumah.

Pendidikan juga meliputi pembentukan kepribadian, bukan hanya mengajarkan pengetahuan. Bukan sekedar know how tetapi being. Untuk membentuk kepribadian maka rumusnya adalah pembiasaan. Pembiasaan ini baru berhasil jika lingkungan mendukung. Harus ada contoh konkrit yang bisa ditiru dan jadi panutan. Harus ada pengalaman sehari-hari yang langsung dirasakan. Tentu dengan konsekuensi merasakan hukuman yang kadang berupa kegagalan yang pahit. Lingkungan sekolah dalam hal ini seringkali gagal dalam menyajikan realitas yg membentuk kepribadian yg tangguh. Yang lebih banyak diberikan adalah teori dan pelajaran untuk dihafalkan.

Betapa menjamurnya sinetron TV saat ini yang menggambarkan kehidupan penuh glamour dan hanya menjual mimpi. Sering sinetron mengumbar kekerasan dan mengeksploitasi seks untuk mendapatkan rating pemirsa yang tinggi. Sinetron seperti ini sungguh tidak layak ditonton. Lantas bagaimana membatasi dan mensensor tontonan anak jika ternyata orangtuanya sendiri hobinya nonton sinetron? Bagamana pula membatasi nonton film jika ternyata film kartun anak pun tidak lagi aman ditonton? Beberapa film seri anak seperti Dragon Ball, detektif Conan, Sincan juga SamuraiX jauh dari tontonan yang mendidik. Film anak itu penuh dengan adegan kekerasan, pembunuhan dan prilaku kasar serta prilaku buruk lain yang tak pantas dilihat anak.

Kurikulum dan Materi Belajar
Orang tua homeschoooling harus kritis dalam mengajarkan materi kepada anak-anaknya. Untuk apa materi ini diajarkan jika kemudian tidak bermanfaat bagi anak pada kehidupannya. Setiap sesuatu yang diajarkan atau dibacakan untuk anak selalu dicoba untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas. Ini yang berbeda dengan sistem sekolah yang seringkali hanya mengajarkan pengetahuan hanya sekedar untuk dihafal tanpa melihat kontek permasalahan yang dihadapi anak. Anak-anak homeschooler belajar sangat dini perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dibandingkan mengetahui hakikat sesuatu.

Dalam hal kecepatan belajar maka sistem homeschooling sangat adaptif dengan kemampuan anak. Hasilnya bukan lebih lambat, banyak di antara anak homeschooler baru berumur 16 tahun tetapi sudah menyelesaikan materi SMA. Homechooling menggunakan jadwal belajar tidak ketat seperti di sekolah tetapi disesuaikan dengan kebutuhan materi yang dipelajari. Mereka juga tidak mengenal liburan panjang sekolah karena mereka belajar hampir sepanjang tahun di saat liburan sekalipun.

Salah satu kunci sukses belajar di luar sekolah adalah antusiasme. Hampir bisa dipastikan hanya mereka yang antusias yang akan berhasil di’sekolah’ yang aturannya sangat fleksibel ini. Prinsipnya seperti kata-kata bijak Aristotle:We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Dan untuk membangun antusiasme maka metode yg paling efektif adalah dengan mengikuti hobi anak dan cara apa yang paling mereka sukai.

Saat ini tersedia banyak sekali sumber belajar. Baik buku-buku ajar, ensiklopedia, CD pendidikan, chanel TV pendidikan, sampai internet sebagai sumber informasi yang berlimpah. Jika sumber belajar melimpah maka anak dapat mempelajari lebih banyak dari pada tuntutan kurikulum atau tuntutan orangtuanya. Keingintahuan anak seringkali tumbuh begitu kuat sehingga sanggup belajar dalam waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi. Di negara-negara maju tidak sedikit keluarga yang memilih menyekolahkan anaknya di rumah dengan alasan banyak lembaga pendidikan resmi yang menyediakan kurikulum dan silabus sejak tingkat TK sampai perguruan tinggi. Media internet digunakan secara aktif untuk mengirimkan bahan belajar maupun bahan test secara online.

Sistem Ujian
Dalam mengerjakan bahan ujian, maka kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. Kebanyakan pembelajar alam tidak lagi terlalu mengejar nilai bagus. Mereka tidak lagi disibukkan dengan mengejar gengsi rangking kelas dan lebih menekankan mengajarkan kejujuran pada anak akan hasil kemampuan diri yang sesungguhnya.

Untuk homeschooler dengan lisensi asing lewat internet maka lembar jawaban ujian dikirim kembali ke lembaga pendidikan jarak jauh untuk dinilai. Jika lulus ujian maka anak akan mendapat sertifikat sehingga bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Banyak lembaga pendidikan internasional jarak jauh yang sertifikatnya diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Lulusan homeschoooling terbukti ada yg diterima di UI.

Peserta homeschool memang harus mengikuti ujian kesetaraan bila ingin kembali melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Mereka bisa mendapat ijasah kesetaraan di pendidikan nasional melalui paket ujian A (SD), B (SMP), dan C (SMA). Jika mereka lulus, berarti kemampuannya sudah setara.

Sebelum itu, mereka mesti mendaftar di lembaga pendidikan nonformal, seperti pusat kegiatan belajar masyarakat atau lembaga kursus yang menyediakan persiapan dan ujian tersebut. Saat ini terdapat lebih dari 3.000 lembaga yang tersebar di berbagai daerah. Setelah terdaftar, mereka dapat mengikuti proses pendidikan dalam waktu tertentu di sana, baru kemudian ikut ujian. Berbekal tanda lulus ujian itu, homeschooler bisa mendaftar ke sekolah formal yang ada.

Sistem Belajar
Homeschooling menggunakan sistem belajar yang disesuaikan dengan kondisi anak dan orangtua. Salah satu cara belajar homeschoooling adalah sistem campuran. Sistem belajar yang sebagian di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Setiap anak bersekolah hanya tiga hari dalam seminggu, yakni Senin-Rabu-Jumat atau Selasa-Kamis-Sabtu. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid. MSA juga menyediakan modul panduan belajar berstandar internasional. Tiap modul seharga Rp 2,5 juta untuk setahun belajar.

Program homeschool model MSA ini telah ada sejak tahun 2002. Diawali 20 keluarga dengan 50 anak, yang berkumpul di Jakarta Selatan untuk menyelenggarakan pendidikan bersama. Jadilah tempat itu sebagai komunitas untuk bersosialisasi dan belajar. Kini tercatat 150 keluarga dan sekitar 300 anak bergabung di MSA. Sayangnya MSA yang merupakan lisesi luar negri ini adalah asosiasi pendidikan kristen, sehingga banyak keluarga muslim belum menerima dan ingin mengembangkan model homeschooling yang islami. Homeschooling ala pesantren.

Di daerah juga muncul pendidikan alternatif yang berbasis masyarakat. Sistem sekolah model SMP terbuka seperti SMP Alternatif Qoryah Thoyyibah di Salatiga dan SMP Alternatif Otek Makmur di dusun Glinggang Kemusu Boyolali adalah sekolah yang relatif ‘bebas’ dalam menentukan kurikulum dan sistem pembelajaran. Dan kalau dicermati sesungguhnya program TV seperti Kontes AFI, KDI, Pildacil atau API juga salah satu bentuk homeschooling. Bahkan tradisi pesantren lama sesungguhnya pun menerapkan prinsip homeschooling. Santri-santri tidak masuk kelas berdasarkan usia tertentu tetapi pembelajaran menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Santri-santri yg rajin dan pandai bisa lulus lebih cepat. Tapi ada juga yg bertahun-tahun tidak lulus pesantren karena cara belajarnya nyantai.

Komunitas ‘Berkemas’ binaan Ibu Yayah Komariah
Apa yg diusahakan oleh Ibu Yayah Komariah, ketua Komunitas Homeschooling BERKEMAS, patut dijadikan rujukan. Berangkat dari keprihatinan nasib pendidikan anak-anaknya yang sering ia tinggalkan karena sibuk mengajar SDIT yang fullday. Sementara itu anaknya sendiri tidak mampu sekolah di tempat ia mengajar arena biayanya yg tinggi. Daripada mengurusi anak orang lain tetapi anak sendiri tidak terurus maka ia keluar dari tempat mengajar dan mulai mengajar anaknya sendiri di rumah. Beberapa anak tetangga kemudian bergabung. Pengajarnya pun mulai beragam karena Berkemas memanfaatkan keberadaan tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan sekitar. (Takmir masjid, pensiunan dinas perkebunan, LSM).

Dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk mengatasi berbagai kendala yg muncul. Bahan-bahan belajar cukup difoto copy. Pengalaman mengajar dengan diterapkan kepada anak-anaknya sendiri. Jika ingin mengajarkan alat transportasi anak-anak Berkemas langsung diajak keliling kota dengan menggunakan alat transportasi yg tersedia. Naik bus kota, naik Transjakarta atau Busway kemudian naik kereta. Selain mengunjungi terminal bus dan stasiun kereta anak-anak juga diajak ke bandara dan pelabuhan. Anak-anak mengalami sendiri naik berbagai alat transportasi lalu diminta menuliskan pengalamannya.

Pendapat para tokoh
Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.