Showing posts with label Poems. Show all posts
Showing posts with label Poems. Show all posts
Monday, April 05, 2010
Saturday, January 24, 2009
Filosofi Tembang Lir Ilir

Tembang syarat makna berikut ini konon gubahan Sunan Kalijogo, Wali Songo yang paling tinggi jiwa seninya. Syair ini sering ditembangkan di pesantren salaf. Kadang diselang - seling dengan sholawat nabi dengan intonasi dan alunan nada yang sama. Syair ini maknanya tinggi dengan alunan syair yang menentramkan hati.
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Terjemahan bahasa Indonesia dari syair diatas kira-kira adalah demikian:
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai gembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Syair di atas tidak menuliskan: “Wahai Raja”, "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon...". Ini menunjukkan bahwa syair ini ditujukan juga bagi wong cilik, orang kebanyakan. Karena sesungguhnya orang kebanyakan pun mempunyai tanggungjawab atau amanah sendiri-sendiri. Kullukum roin wa kullukum mas’ulum ‘an roiyatih. Ro’in sendiri dalam bahasa arab biasa diartikan sebagai gembala. Masa kecil Rasullah juga seorang gembala. Orang kecil yang mempunyai amanah yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
Harus dipanjat dengan hati-hati untuk memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan. Ini menjaga kelangsungan dari berkah sang pohon blimbing agar tetap bisa memberikan buahnya di masa yang akan datang.
Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Karena mengandung sifat asam kuat maka baju yang dicuci dengan air blimbing dapat menjadi bersih kembali seperti baru.
Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi masyarakat Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Pakaian juga berarti perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan jiwa adalah perhiasan takwa. (fa ta zawwaduu fa inna khoiro zaadi taqwa). Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.
Pakaianmu, (yaitu) agamamu atau akhlakmu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki). Rusak di pinggir-pinggir artinya bukan rusak total tetapi kurang sempurna. Jadi syair ini menuntun kita untuk menyempurnakan agama dengan keimanan dan ketakwaan yang sempurna pula. Udkhuluu fi silmi kaaffah. Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri. Menghinakan diri sendiri.
Pakaian yang robek-robek ini perlu diperbaiki sebagai bekal menghadap Robbmu yang Maha sempurna. Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama compang-camping oleh maksiat yang masih dilakukan. Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat. Bersemangat dan optimislah. Selagi hidayah Allah masih bisa diraih. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Alloh.
Tugas Kuliah Pasca Pak Sabar Narimo
Wednesday, January 23, 2008
Keindahan Untukmu Rabbi
Jika cintaku Kau ciptakan untuk dia
tabahkan hatinya
teguhkan imannya
sucikan cintanya
lembutkan rindunya Rabbi....
Jika hatiku Kau ciptakan untuk dia
penuhi hatinya dengan Kasih-MU
terangi langkahnya dengan Nur-MU
bisikkan kedamaian dalam kegalauan
temani dia dalam kesepian Rabbi...
Kutitipkan cintaku pada-MU
untuknya resapkan rinduku pada rindunya
mekarkan cintaku bersama cintanya
satukan hidupku dan hidupnya dalam cinta-MU
sebab,
sungguh aku mencintainya karena-MU...
Cinta... Akhirnya kutemukan juga...
Aku pernah mencari cinta ...
Kucari di utara, timur, selatan dan barat,
tapi tak jua kutemukan
Semakin keras ku mencari,
semakin tak ku temui ...
Kusangka cinta adalah suatu perasaan membara,
tapi aku terbakar ...
Kusangka cinta adalah kebahagiaan hingga langit ketujuh,
tapi aku terjatuh ...
Kusangka cinta adalah memiliki dan dimiliki,
tapi aku terkekang ...
Kusangka cinta adalah semu, dan aku kecewa ...
Sampai akhirnya ...
kutemukan sebuah perasaan hangat merayap
menyelimuti seluruh jiwaku
tumbuh dan berkembang dengan indahnya
memelukku tapi tidak mengikatku
menenangkan hatiku dan mencerahkan pikiranku
Akhirnya kutemukan juga ...
cinta ...
pada dirimu Aris Hanafiyahku...
Kucari di utara, timur, selatan dan barat,
tapi tak jua kutemukan
Semakin keras ku mencari,
semakin tak ku temui ...
Kusangka cinta adalah suatu perasaan membara,
tapi aku terbakar ...
Kusangka cinta adalah kebahagiaan hingga langit ketujuh,
tapi aku terjatuh ...
Kusangka cinta adalah memiliki dan dimiliki,
tapi aku terkekang ...
Kusangka cinta adalah semu, dan aku kecewa ...
Sampai akhirnya ...
kutemukan sebuah perasaan hangat merayap
menyelimuti seluruh jiwaku
tumbuh dan berkembang dengan indahnya
memelukku tapi tidak mengikatku
menenangkan hatiku dan mencerahkan pikiranku
Akhirnya kutemukan juga ...
cinta ...
pada dirimu Aris Hanafiyahku...
Wednesday, May 16, 2007
Pintaku *
Helai hati jatuh
Menimpa hati yang terkapar bersama kekosongan impian
Helai hati jatuh
tawarkan harapan pelangi jelita dipadang gersang
Helai hati jatuh
Tiupkan hembusan lembut dalam kantong mimpi indah
Helai hati jatuh
Janjikan konsensus perdamaian dan kelembutan
Ijinkan saya berbagi
Ijinkan saya menangis
Ijinkan saya bersandar
Ijinkan saya melayani
Ijinkan saya mengeluh
Ijinkan saya mengabdi
Pada bahumu
Pada hatimu
Pada cintamu
Pada kekosonganmu
Pada keridloanmu
Wahai Suamiku……….
Seperti Rasulullah dan Khadijah
Seperti Yusuf dan Zulaikha
Seperti Ali dan Fatimah
Yang saling membutuhkan
*)Dariku:
Istrimu
Menimpa hati yang terkapar bersama kekosongan impian
Helai hati jatuh
tawarkan harapan pelangi jelita dipadang gersang
Helai hati jatuh
Tiupkan hembusan lembut dalam kantong mimpi indah
Helai hati jatuh
Janjikan konsensus perdamaian dan kelembutan
Ijinkan saya berbagi
Ijinkan saya menangis
Ijinkan saya bersandar
Ijinkan saya melayani
Ijinkan saya mengeluh
Ijinkan saya mengabdi
Pada bahumu
Pada hatimu
Pada cintamu
Pada kekosonganmu
Pada keridloanmu
Wahai Suamiku……….
Seperti Rasulullah dan Khadijah
Seperti Yusuf dan Zulaikha
Seperti Ali dan Fatimah
Yang saling membutuhkan
*)Dariku:
Istrimu
Dalam Gelap Penantian *
Ketika lidahku kelu membisu
Hasrat menyergap terselubung perasaan malu
Tanpa kata
Hanya desir hati
Kelembutan yang mempesona
Meski pandangan mata saling menunduk
mata batinku melihatnya tersenyum
Indah tak terlukiskan kata-kata
Kehadirannya bagai angan rindu yang mewujud
Tapi kini datang kegelapan
Seperti pekatnya malam tanpa bulan dan bintang
keraguan sempat mengulitakan hati
badai prahara menerjang tak diundang
Sadarkan bahwa aku bukanlah pewaris batu karang
Sekeras apapun usahaku
Hanya kelembutanlah yang sanggup
Menegarkan hati dengan senandungnya
Dan ketika pudar
Pudar pulalah asa
Kekosongan yang siap mengiris sukma
Meski bukan karang kucoba bertahan
Menyenadungkan doa
dalam tetes air mata satu-satu
Berharap jadi bahan bakar api asaku
Agar mampu menerangi jalan
Menanti saat mentari muncul
diufuk cakralawaku
kugenggam bayangmu disudut hati
Berharap senyummu tak memudar cepat
Smoga penantian panjangku tak sia-sia
*)Puisi untuk istriku yang tercinta
Mengenang saat penantian perikahan kami
Hasrat menyergap terselubung perasaan malu
Tanpa kata
Hanya desir hati
Kelembutan yang mempesona
Meski pandangan mata saling menunduk
mata batinku melihatnya tersenyum
Indah tak terlukiskan kata-kata
Kehadirannya bagai angan rindu yang mewujud
Tapi kini datang kegelapan
Seperti pekatnya malam tanpa bulan dan bintang
keraguan sempat mengulitakan hati
badai prahara menerjang tak diundang
Sadarkan bahwa aku bukanlah pewaris batu karang
Sekeras apapun usahaku
Hanya kelembutanlah yang sanggup
Menegarkan hati dengan senandungnya
Dan ketika pudar
Pudar pulalah asa
Kekosongan yang siap mengiris sukma
Meski bukan karang kucoba bertahan
Menyenadungkan doa
dalam tetes air mata satu-satu
Berharap jadi bahan bakar api asaku
Agar mampu menerangi jalan
Menanti saat mentari muncul
diufuk cakralawaku
kugenggam bayangmu disudut hati
Berharap senyummu tak memudar cepat
Smoga penantian panjangku tak sia-sia
*)Puisi untuk istriku yang tercinta
Mengenang saat penantian perikahan kami
Bidadariku *
Bunga kehidupan bermekaran
Saat kau datang bersama angin entah dari mana
Menebarkan keharuman wangi zakfaran
melayang anggun di atas permukaan bumi
Debu zaman tak sanggup menyentuh
Bahkan ujung sepatumu
Senyum dan bening tatapanmu
Adalah kedamaian
Gaun panjang dan pandangan yang tertunduk
dikibaran jilbab
Menyembunyikan kesucian hati
Raksasa peradaban pun takluk
Dilambaian tanganmu
Sang Dajjal gagal menjebak
Jerat halus tipu daya yang mematikan
Hanya menjala bayang-bayang
Karena ia tak bisa menjerat ruh dan cinta
Ia hanya bisa melempar panah fitnah
Kau hanya cukup meliuk seakan menari
dengan senyuman tetap mengembang
Di tanganmu tergenggam biji kehidupan
Yang siap kau semaikan
Segala benih hijau peradaban
Pesonamu telah mengubah
pedang kampak terhunus para kesatria
menjadi parang, cangkul dan bajak
Dan mereka pun mulai menggarap sawah
diiring grimis hujan dan senandung doa
cakrawala pun berhias pelangi
Kau membumi
melahirkan para kesatria
melahirkan para bidadari
melahirkan generasi robbani
*Puisi untuk istriku tercinta
mengenang pernikahan kami
Saat kau datang bersama angin entah dari mana
Menebarkan keharuman wangi zakfaran
melayang anggun di atas permukaan bumi
Debu zaman tak sanggup menyentuh
Bahkan ujung sepatumu
Senyum dan bening tatapanmu
Adalah kedamaian
Gaun panjang dan pandangan yang tertunduk
dikibaran jilbab
Menyembunyikan kesucian hati
Raksasa peradaban pun takluk
Dilambaian tanganmu
Sang Dajjal gagal menjebak
Jerat halus tipu daya yang mematikan
Hanya menjala bayang-bayang
Karena ia tak bisa menjerat ruh dan cinta
Ia hanya bisa melempar panah fitnah
Kau hanya cukup meliuk seakan menari
dengan senyuman tetap mengembang
Di tanganmu tergenggam biji kehidupan
Yang siap kau semaikan
Segala benih hijau peradaban
Pesonamu telah mengubah
pedang kampak terhunus para kesatria
menjadi parang, cangkul dan bajak
Dan mereka pun mulai menggarap sawah
diiring grimis hujan dan senandung doa
cakrawala pun berhias pelangi
Kau membumi
melahirkan para kesatria
melahirkan para bidadari
melahirkan generasi robbani
*Puisi untuk istriku tercinta
mengenang pernikahan kami
Subscribe to:
Posts (Atom)