Siapa Bilang Sulit?
Sesunggunya menulis karya ilmiah itu pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang karena seluruh mahasiswa/siswa pasti bisa menulis. Tetapi susah karena ketiadaan kemauan, kebutuhan dan kebiasaan serta ketrampilan menulis. Sulit bagi yang belum tahu tekniknya, yang malas berfikir, dan malas berdisiplin. Sulit karena ketrampilan ini langka dimiliki sehingga tidak mudah berguru karena sulit cari gurunya. Sulit sehingga tidak pernah dicoba, sebab sering gagal sebelum memulainya. Padahal mencoba terus-menerus menjadi jalan satu-satunya jalan untuk menjadi penulis yang baik. Menulis yang baik butuh pengalaman, tetapi tanpa pengalaman orang kesulitan menulis. Seperti lingkaran setan yang harus diputus rantainya, dihapus mitosnya dengan cara menikmati keberhasilan setiap langkah kemajuannya, sekecil apapun.
Kemauan yang Butuh Keyakinan
Kemauan menulis bisa dipaksakan, misalnya terpaksa karena ada tugas harus menulis skripsi, tetapi seringkali sesuatu yang terpaksa tidak langgeng. Mudah stress dan sering berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Kemauan yang sesaat juga sering jadi masalah. Kemauan tidak kuat hanya menghasilkan pekerjaan setengah jadi atau malah gagal sama sekali. Seringkali kerja besar hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bisa terus-menerus berkomitmen tinggi. Kerja besar terdiri atas banyak kerja kecil-kecil yang terstruktur dan memerlukan waktu panjang untuk menuntaskannya. Lari 10 km dimulai dari ayunan langkah yang pertama.
Jadi kuncinya yakin bahwa bisa menulis dan yakin bahwa tulisan kita bermanfaat untuk orang lain. Keyakinan ini harus dipupuk terus menerus. Kalaupun akhirnya tulisan itu tidak dibaca orang lain maka jangan berkecil hati karena pastilah tulisan itu sudah kita baca sendiri dan itu berarti tulisan itu bermanfaat untuk diri sendiri. Keyakinan bahwa menulis bermanfaat bagi diri sendiri ini dapat membuat kita konsisten terus berusaha menulis.
Kebutuhan Membuat Paksaan dapat dinikmati
Kebutuhan menulis bisa direkayasa, karena kebutuhan sebenarnya bisa diciptakan. Sayangnya lebih banyak yang tidak merasa butuh menulis. Menulis lebih jadi beban, bukan menjadi kebutuhan ekspresi ide dan gagasan. Ingat bahwa setiap orang butuh mengekspresikan diri karena manusia adalah makhluk sosial. DR Pennebaker dalam buku Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotion mengungkapkan riset psikologi pada mereka yang menulis. Hasil riset membuktikan mereka yang mengungkapkan segala pengalaman yang mengganggu fikiran lewat tulisan dapat meningkatkan perasaan dan kesehatan tubuh.
Besarnya Manfaat Menulis
“Menulis Lebih Baik ketimbang Operasi Wajah”, itu kata bijak dari Fatima Mernissi untuk para wanita di seluruh dunia. Ia menambahkan, “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa”. Manfaat yang didapat dari melepaskan stress adalah wajah yang berseri-seri dan bebas jerawat!
Bayangkan jika manfaat menulis ternyata bisa meningkatkan kecerdasan seseorang. Dengan menulis berarti mengikat makna dari gagasan abstrak di kepala. Kebiasaan memformulasikan gagasan mau tidak mau melatih otak kanan dan kiri. Otak kanan menimbulkan gagasan dan otak kiri memformulasikan agar dapat menjadi tulisan. Penggunaan logika, imajinasi, analisa dan memory akan melatih otak mencapai keadaan optimalnya.
Menurut DR Taufik Pasiak -Dosen UGM yang ahli bidang otak- bahwa menulis membantu mengaktifkan otak untuk menciptakan hubungan-hubungan neuron baru khususnya pada jaringan hypocampus sehingga mempercepat memori tersimpan. Menulis terbukti mencerdaskan otak.
Pekerjaan menulis juga dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan. Saat ini banyak media cetak yang mau membayar mahal atas artikel bermutu. Banyak pula penulis yang hidup berkecukupan hanya dari royalty buku yang diterbitkan.
Kebiasaan Membentuk Karakter Trampil
Kebiasaan menulis hanya bisa jika didukung dengan kebiasaan membaca. Menurut Hernowo, menulis adalah kepanjangan tangan dari membaca. Seseorang yang telah membaca banyak biasanya banyak pula ide yang ada di kepala yang menuntut dikeluarkan. Kalau tidak dikeluarkan bisa muncul jerawat dan stress. Yang dituntut dari pembiasaan adalah disiplin diri pada penggunaan waktu dan konsistensi. Berusaha menetapkan tujuan dan target lalu setia pada tujuan dan target itu. Berusahalah menetapkan prioritas dengan mendahulukan yang terpenting dari yang penting. Ini sangat berguna untuk mengurangi tekanan batin saat terjadi masalah ketika menentukan pilihan yang berakibat harus ada yang dikorbankan.
Tanpa kebiasaan membaca maka sangat sulit untuk menghasilkan tulisan yang baik dan bermutu. Apa yang mau ditulis jika bahan tulisan tidak ada? Bahkan ada humor yang mengatakan 3 jam di perpustakaan senilai 3 bulan penelitian dilaboratorium. Mendapatkan ilmu lewat membaca buku yang tepat jauh lebih cepat dari pada mencoba mengalaminya sendiri.
Kebiasaan menulis perlu dilatih mulai dari yang paling sederhana seperti menulis memo, ringkasan, catatan harian (diary) atau menulis laporan singkat, lalu meningkat pada tulisan berat model membuat proposal, artikel dan karya ilmiah atau mengarang buku. Kebiasaan membaca yang diikuti kebiasaan menulis akan sangat efektif dalam menyerap ilmu pengetahuan. Inilah ketrampilan hidup (life skill) yang sangat berguna untuk survife di era informasi saat ini.
Mengalirkan Gagasan dengan Mengaktifkan Otak Kananmu
Untuk memulai menulis maka tuliskan dari apa yang benar-benar kamu pahami. Ini nasehat dari JK Rouling. Fungsikan otak kananmu yang penuh kreatifitas. Tuangkan gagasan dengan menulis terus tanpa henti seperti mengalir. Jangan perdulikan tatabahasa atau pilihan kata. Jangan perduli jika terpaksa menuliskan titik-titik atau tanda tanya karena memang belum ketemu teori, nama, angka atau data penting lainnya tapi sempat terlintas. Jangan takut untuk menggambar jika memang gagasan itu tidak bisa ditulis dan hanya lebih baik dituangkan dalam bentuk gambar atau sketsa. Biarkan nanti pada gilirannya titik-titik itu dapat diedit dengan menambahkan detil valid dari pustaka rujukan atau dari tanya pada sumber ahlinya. Tapi itu nanti. Sekarang saatnya menuangkan gagasan.
Setelah menuliskan pokok pikiran cobalah untuk terus mengembangkannya dengan deskripsi yang mengalir, seperti bercerita atau ngobrol. Bolehlah aliran ide melompat dari satu topik ke topik lain. Mungkin saja nanti urutannya harus ditata ulang, tapi itu nanti. Boleh saja topiknya beda sama sekali. Nanti siapa tahu menjadi bahan tulisan kedua atau ketiga dan seterusnya.
Jika ide macet bisa gunakan teorinya clustering dan mind maping milik Tony Buzan. Tulis dulu pokok pikitan ditengah-tengah kertas kosong. Kemudian coba tuliskan berbagai topik yang berkaitan dengan pokok pikiran. Tambahkan hubungan dengan membuat cabang-cabang tema apapun yang terlintas dikepala. Teruskan dengan menambahkan anak-anak cabang berikutnya. Gunakan set kreatif untuk membuat cabang yang banyak dan ‘rimbun’ dengan gagasan pengembangan. Jika mulai menyimpang bisa saja pokok pikiran ini dicoret. Setelah menggali gagasan dengan melukiskannya, baru kemudian menuliskannya dalam alenia-alenia bentuk bertutur.
Kemudian gunakan jeda waktu sebentar untuk mengendapkan gagasan. Setelah gagasan diendapkan barang sehari semalam (jadi jangan buru-buru diedit) barulah kemudian hasil tulisan tadi diedit dan diedit. Proses edit ini memakan waktu dan usaha 40% sendiri sebelum akhirnya tulisan layak dibaca orang lain.
Saatnya Mengedit dengan Memfungsikan Otak Kiri
Mengedit berarti membahasakan gagasan kedalam bahasa yang berlaku didunia ilmu pengetahuan. Ada aturan yang harus ditepati, ada struktur kalimat dan urutan yang baku. Ada pengambilan kesimpulan secara deduktif atau pemaparan induktif. Tulisan ilmiah bercirikan adanya data-data valid pendukung gagasan. Menghimpun data ini dapat berupa menghimpun buku-buku (pustaka), menyebar angket, observasi lapangan atau dengan mencari dokumen pendukung. Dokumen itu bisa dokumen pokok yang berkaitan langsung dengan gagasan yang ditulis ataupun berupa dokumen penunjang. Salah satu sumber data dan dokumen paling berlimpah adalah internet. Sayangnya untuk itu kita harus pandai bahasa Inggris. Jadi bahasa Inggris adalah kemampuan penting yang harus diasah.
Otak kiri yang biasa berfikir analitis, runut, logis dan matematis sangat dibutuhkan dalam proses editing. Saat otak kiri bekerja aktif biasanya otak kanan akan terganggu konsentrasinya. Inilah rahasianya mengapa antara proses menggali ide atau gagasan harus dipisahkan dari proses mengedit tulisan. Jika dicampur biasanya kerja kreatif terhenti. Yang muncul adalah kesibukan otak kiri mengkoreksi atau sibuk menyalahkan. Hal ini justru sangat mengganggu proses kreatif.
Sunday, November 27, 2005
Pasif Income
Tipe Pekerja
Kebanyakan orang bertipe pekerja (employee) yang bekerja dengan tenaga dan waktu yang dimiliki untuk mendapatkan bayaran dan kedudukan. Ini seperti membarterkan waktu dan tenaga untuk uang dan jabatan. Puncak prestasi dari kerja ini adalah diperolehnya jabatan tinggi dengan gaji tinggi, menikmati berbagai tunjangan dan pada akhirnya mendapat pensiunan. Tipe employee ini ada yang bergaji rendah tapi ada yang bergaji tinggi. Terdiri atas pegawai perusahaan, dokter di rumah sakit, koki di restoran, bankir di bank, arsitek dan tukang di perusahaan konstruksi juga PNS.
Untuk mendapat gaji tinggi dan bergengsi, strategi awalnya adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar atau menjadi pegawai pemerintah (PNS). Karena biasanya ada persaingan ketat untuk mendapat pekerjaan maka ijasah menjadi penentu penting setiap adanya lowongan pekerjaan. Untuk itulah mereka belajar dan berusaha mendapat nilai yang tinggi sehingga dapat masuk keperguruan tinggi bergensi dan lulus dengan ijazah dan nilai yang tinggi. Jika ijazah tidak mempan untuk masuk dunia kerja maka digunakanlah uang sogokan atau memo dari orang penting.
Setelah diterima sebagai pegawai negri atau diterima di sebuah perusahaan bergensi, mereka akan bekerja dengan rajin untuk mendapat gaji dan berharap satu saat nanti akan ada kenaikan pangkat atau jabatan yang biasanya berkaitan juga dengan kenaikan gaji dan tunjangan. Polanya secara sederhana adalah sebagai berikut:
Kerja ---> Pendapatan/Gaji ---> Karir/Jabatan ---> Pensiun
Sayangnya peningkatan pendapatan karena kenaikan gaji atau kenaikan pangkat seringkali diikuti dengan keinginan untuk meningkatkan derajat kehidupan. Artinya kenaikan status jabatan berarti kenaikan gengsi yang ini ditunjang dengan penampilan yang berbeda. Penampilan berbeda ini membutuhkan biaya yang berbeda alias pengeluaran meningkat. Hasilnya kenaikan pendapatan diiringi dengan kenaikan pengeluaran. Pejabat yang lebih tinggi biasanya mempunyai rumah lebih besar dan mobil lebih bagus, lebih mahal serta lebih sering menghadiri pesta atau kondangan dengan amplop yang tebal. Pada kasus tertentu bahkan sebelum kenaikan gaji pegawai negeri benar-benar diterapkan, kenaikan harga-harga di pasar sudah jauh meningkat sebelumnya.
Tak jarang dengan alasan karena mempertahankan status maka mereka memaksa diri membeli barang kebutuhan meskipun dengan cara kredit. Tentunya dipilih yang angsurannya rendah dengan konsekuensi pelunasan jangka panjang. Mendapatkan kredit rumah dan kendaraan menjadi suatu yang dimudahkan oleh bank bagi mereka yang punya slip gaji tetap. Seluruh pendapatan semuanya habis dibelanjakan pada barang konsumsi dan digunakan untuk melunasi kredit. Jika ada sisa barulah mereka menabungnya. Tabungan ini akan digunakan untuk keperluan menyekolahkan anak, atau berobat jika ada anggota keluarga yang sakit atau kebutuhan lain yang menuntut uang ekstra. Hajatan menikahkan anak misalnya.
Tipe Pekerja Mandiri
Di samping tipe pekerja atau Employee ada tipe lain yaitu tipe pekerja mandiri atau Self Employee. Mereka yang termasuk di dalamnya adalah atlet profesional, dokter gigi, pengacara, artis, seniman, makelar mobil, pemborong bangunan, pemilik toko kelontong, sopir taksi, penjual bakso, tukang sate dan lain sebagainya. Berbeda dengan pekerja yang bekerja untuk mendapatkan gaji yang ditentukan oleh perusahaan, maka pendapatan dari self employee ditentukan langsung oleh pasar yang memanfaatkannya. Sayangnya seperti juga tipe pekerja, mereka yang bertipe pekerja mandiri tidak akan mendapatkan uang jika ia berhenti bekerja.
Keahlian menjadi ciri khas dari tipe ini. Semakin ahli dan semakin keras ia bekerja maka semakin banyak kostomer yang bisa dilayani maka semakin besar pendapatannya. Inilah cara tipe pekerja mandiri peningkatkan pendapatan. Meningkatkan keahlian dengan kursus, berlatih atau dengan meningkatkan volume kerja dengan bekerja lebih keras dan lebih lama. Tak jarang dari self employee ini kehabisan tenaga dan waktu untuk melayani pelanggan ketika usahanya semakin maju.
Jebakan Rat Race
Benar bahwa kedua tipe baik pekerja maupun pekerja mandiri ini dapat menghasilkan pendapatan jutaan rupiah atau bahkan ratusan juta dan status di mata masyarakat mereka tinggi. Namun mereka sejatinya tidak bertambah kaya karena tak ada peningkatan kemandirian pendapatan. Menurut Kiyosaki, mereka terpenjara dalam rat race (lomba lari tikus). Ini karena peningkatan pendapatan sering didiringi dengan peningkatan pengeluaran -kalau tidak hati-hati- yang lebih besar dari pendapatan. Ini membuat mereka merasa bahwa pendapatannya tidak pernah cukup. Ketidaktahuannya membuat tidak bertambahnya aset pribadi justru yang bertambah adalah pengeluaran dan hutang yang harus ditanggung. Mereka kemudian mencari solusi dengan cara menaikkan pendapatan yang berarti bekerja lebih keras, bekerja lembur dan mencari obyekan di luar kantor. Ada pula yang ingin jalan pintas dengan melakukan kejahatan kerah putih yaitu dengan mengkorupsi uang kantor atau menerima suap. Ada juga yang melakukan penipuan dan pembajakan.
Jika suatu ketika mereka tidak bisa bekerja secara permanen, bisa diakibatkan karena sakit, cacat akibat kecelakaan, perusahaan bangkrut, PHK atau sudah tua, maka mereka tidak lagi punya pendapatan. Setelah sedikit tabungan yang dikumpulkan habis, gilirannnya barang-barang yang dimiliki terpaksa dijual dengan harga kortingan untuk menutupi kebutuhan selama masih hidup dan yang tersisa adalah utang kredit yang bertumpuk.
Mereka sangat peduli dengan keamanan kerja karena hanya dengan bekerja mereka akan mendapat penghasilan. Karena itulah mereka memperjuangkan nasibnya dengan meminta perusahaan menjamin tunjangan hari tua atau pensiun, pesangon besar jika di PHK, asuransi kesehatan, selain status dan jenjang karir yang jelas. Tak heran jika mereka masuk menjadi anggota serikat pekerja agar perjuangan mereka lebih powerfull.
Menggantungkan hidup semata dari gaji menurut Kiyosaki adalah muncul dari kebodohan finansial. Ketidakmandirian keuangan ini tidak hanya dialami oleh tukang sapu atau pegawai rendahan, namun juga direktur atau pegawai eksekutif dengan jabatan tinggi. Dibutuhkan kecerdasan finansial untuk dapat mengelola chashflow dengan benar dan keluar dari rat race. Petunjuk awalnya adalah pribahasa jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Jangan sampai besar pengeluaran dari pada pendapatan. Tapi prinsip ini saja tidak cukup. Perlu pengetahuan tentang berinvestasi atau berbisnis sehingga suatu saat aset yang dimiliki seseorang dapat menjadi pendapatan meskipun ia tidak lagi bekerja atau tidak lagi dapat bekerja. Ini yang disebut pasive income.
Anggapan salah kalau rumah dan mobil yang dimiliki adalah aset. Karena rumah dan mobil tidak menghasilkan uang tetapi justru mengeluarkan uang dari kantongnya. Cicilan kredit mobil dan KPR sesungguhnya hutang yang memaksanya bekerja keras seumur hidup untuk melunasinya. Mobil secara perhitungan investasi langsung turun harganya begitu ia bayar karena statusnya berubah menjadi second hand. Belum lagi ongkos perawatan dan pajak yang harus dikeluarkan. Semuanya mengeluarkan uang dari kantong, itu bukan investasi aset namanya tapi liabilitas. Liabilitas adalah kebalikan dari aset. Kalau aset mendatangkan uang, liabilitas membuat uang keluar dari kantong. Maunya mereka berinvestasi dengan membeli rumah dan mobil tapi kenyataan keduanya justru liabilitas yang akan menggerogoti kekayaannya.
Tipe Pemilik Bisnis dan Investor
Kekayaan sejati menurut Kiyosaki adalah seberapa lama ia dapat hidup layak dari kekayaannya jika saat ini ia tidak lagi dapat bekerja. Mereka yang benar-benar kaya adalah yang dapat hidup makmur tanpa bekerja lagi karena asetnya telah bekerja untuknya, bahkan kekayaan asetnya dapat menghidupi anak cucunya. Untuk itulah mereka bekerja bersungguh-sungguh dan sanggup mengambil resiko untuk membangun aset.
Pengertian aset adalah segala yang membuat uang mengalir ke kantong. Semakin besar aset maka semakin besar aliran uang ke kantong. Berbeda dengan mereka yang bekerja membarterkan waktu dan tenaga untuk uang, mereka yang cerdas secara finansial membarterkan waktu dan tenaga untuk membangun aset. Asetlah yang kemudian berkerja untuk menghasilkan uang baginya. Mereka bertipe Pemilik Usaha (Business Owner) atau bertipe Investor. Pola kerja yang dianut adalah sebagai berikut:
Kerja ---> Investasi/Aset ---> Pendapatan/Royalty ---> Kebebasan Finansial
Kerja dilakukan untuk meningkatkan investasi atau memiliki sistem bisnis. Butuh waktu dan strategi yang tepat untuk ini. Dari aset investasi atau sistem bisnis yang diciptakan mereka mendapatkan uang. Pendapatan akan terus bertambah jika aset bisnis atau investasinya terus bertambah. Karena investasi dan sistem bisnis ini dapat berjalan sendiri maka ini membuat suatu saat di masa depan ia tidak perlu lagi bekerja dan hidup dari hasil investasi dan sistem bisnis yang ia miliki. Ia mendapatkan kebebasan secara finansial.
Berbeda dengan self employee yang roda bisnisnya berhenti jika ia berhenti bekerja maka Busines Owner menggaji orang profesional untuk menjalankan bisnisnya. Ia tidak perlu bekerja karena sistem bisnisnya telah berjalan sendiri. Ia hanya bekerja saat awal sampai sistem bisnisnya terbentuk sempurna kemudian ia bisa tinggalkan sementara ia tetap mendapatkan pendapatan darinya. Sementara tipe investor membuat uang yang dimilikinya bekerja keras untuk dirinya. Uang yang dimilikinya diinvestasikan pada orang lain atau perusahaan orang lain yang berprospek sehingga ia mendapatkan penghasilan dari pembagian keuntungan usaha orang lain tersebut. Mereka tidak mau Kedua tipe ini memperoleh apa yang disebut pendapatan pasif atau Pasive Income.
Pasive Income
Janganlah buru-buru menganggap pasive income sebagai kecurangan atau perbutan dosa. Anggapan keliru ini sering terjadi seperti lontaran pertanyaan bagaimana mungkin mereka tidak bekerja tetapi mendapatkan penghasilan? Bagaimana mungkin seseorang mendapat penghasilan tinggi, jauh lebih tinggi dari pekerja yang bekerja keras untuknya?
Rahasianya adalah:
•Mereka menciptakan pekerjaan untuk orang banyak maka mereka dibayar lebih.
•Mereka menanggung resiko orang banyak dan karena itulah dibayar mahal.
•Mereka bisa sangat cepat kehilangan uang investasinya yang beratus juta, meskipun seringnya mereka justru menghasilkan uang beratus juta.
•Mereka berpengalaman untuk mengelola keuangan besar dengan rasional bukan emosional karenanya mereka mendapat untung besar.
•Mereka memecahkan problem keuangan yang besar sehingga mereka dibayar dengan dengan pendapatan yang besar pula.
Lantas tipe manakah anda saat ini? Employee, Self Employee, Busines Owner atau Investor? Benarkah anda aman dari permasalahan keuangan di masa yang akan datang? Dua pertanyaan ini cukup kiranya untuk membuat kita berfikir ulang dan segera bertindak agar tidak menyesal di kemudian hari.
Cincing: Adaptasi Rok dan Jubah di Assalaam
Cincing! Kejadian yang membuat terkejut dan memancing perhatianku. Ini bukan merujuk pada kejadian Ratu Bilkis yang cincing saat masuk pintu kerajaan nabi Sulaiman. Lantai yang ‘kinclong’ sepertinya berair membuat reflek Ratu Bilkis untuk menarik sedikit ujung gaunnya agar tidak basah, cincing. Tapi ini kejadian terjadi saat awal santriwati baru pertama kali diwajibkan pakai rok.
Bertahun-tahun santriwati sudah terlanjur biasa pakai celana. Pakai babydol. Saat keluar kamar, saat makan, saat olahraga, atau dibawa tidur. Model pakaian yang lebih bebas dan berkesan ceria. Tak ada peraturan mewajibkan pakai rok di luar jam pelajaran. Kewajiban pakai rok membuat kelincahan kaki sedikit terhalangi. Rasa ribet membuat mereka jadi reflek cincing.
Yang membuat kebijakan ini adalah Ust Muin. Mudir Ma’had yang berketetapan hati akan merubah image penampilan santri Assalaam. Khususnya santriwati dan Ustadzah wajib pakai rok atau berjubah dan dilarang pakai celana. Cermin paling jernih atas akhlak santri Assalaam adalah penampilannya. Penampilan santriwati harus anggun dan islami dengan rok dan jubah.
Tidak sedikit yang meragukan peraturan akan jalan. Alasan malu kalau pakai jubah karena dibilang seperti badut. Malu dibilang anak Ngruki. Nggak modis dan seperti kurungan ayam atau berbagai dalih pesimis lain. Dalih kosong yang kalau kita telaah hanya berlandas sikap hedonis. Apa-apa diukur dari enak atau tidak enaknya. Bukan benar-salah atau kemanfaatannya. Terpaan protes ini tidak menggemingkan para pengasuh.
Hasilnya Subhanallah. Saat keluar komplek pertama kali santriwati pakai jubah. Sungguh membanggakan. Santriwati yang berjubah itu seolah menunjukkan jati diri. Ini loh santri Assalaam. Yang berakhak Islami. Bermental teguh membela Islam dan simbol-simbolnya. Pakai jubah tapi tetap modis. Nggak tanggung menjalankan syariat menutup aurat.
Ada sedikit gagasan melintas dibenakku. Seandainya kebijakan itu diberlakukan bertahap. Santriwati kibar dulu, sedang santri sighor masih diperbolehkan. Bukankah santri kibar sudah gede dan memasuki usia dewasa. Patut kiranya berpenampilan lebih anggun. Lebih wanita. Pantas jika pakai rok atau berjubah lebar. Sedang santri sighor kan baru lulusan SD. Fisiknya juga masih kecil and mungil. Sifat keceriaan dan kelincahan masih melekat erat di setiap geraknya. Memberikan kewajiban pakai rok kok sepertinya membatasi mereka.
Sayangnya santri sighor lebih taat peraturan dari pada santri kibar. Jadi keberhasilan penerapan peraturannya kebalik. Santri sighor lebih dulu bisa diandalkan. Kalau aturan diterapkan berbeda mereka yang kibar pasti berdalih. Nggak adil, nggak toleran. Santri kibar paling bisa berdalih untuk tidak menjalankan aturan yang hanya akan membelenggu kebebasan mereka.
Semoga saja suatu saat nanti tidak perlu muncul rasa iri dari santri kibar kepada santri sighor. Tidak harus ada penyamaan peraturan yang kaku. Penerapan bisa luwes namun efektif.
Saat kemudian ada kunjungan pengasuh PP Al Mu’min Ngruki ke Assalaam. Dalam hati aku bersyukur, kami sekarang memang beda. Kepada Ust Muin kuhaturkan kalimat takzim: Jazakallah khoirul jaza’…
Sunday, July 24, 2005
Mendidik Remaja untuk Bertanggungjawab
Kita seringkali menemukan kejadian di mana orang cenderung ‘lari’ dari masalah. Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka cenderung membiarkan masalah itu tergantung tanpa penyelesaian berarti. Mereka malah mencari kesibukan lain yang bisa mengalihkan ‘untuk sementara’ perhatian dan stress yang timbul dari masalah tersebut. Lalu menganggap masalah itu seperti tidak pernah ada.
Lebih parah lagi kini berkembang kasus lempar tanggung jawab. Ia sendiri penyebab masalah itu timbul tetapi menuding orang lain yang bersalah dan orang lainlah yang harus bertanggung jawab. Istilahnya pun sudah sering kita dengar: mengkambing hitamkan orang lain. Pada dunia kerja, kecenderungan mencari kambing hitam dalam setiap masalah yang muncul sering malah jadi solusi yang disukai ketimbang secara ksatria mengakui kesalahan dan mencoba membenahi kerusakan yang timbul. Kambing hitamnya bisa jatuh pada orang lain, rekan kerja, atasan, situasi atau pada sistem, tapi hampir tidak pernah mengakui bahwa diri pribadi ikut andil sehingga trouble bisa terjadi. Kalaupun ada kesalahan pribadi yang diakui pastilah disampaikan pula berjibun alasan apologetic pembenarannya. Banyak tetapi yang membungkusnya. Tetapi khan saya… Tetapi itu karena mereka… Tetapi … It's so hard to face the truth..
Kesalahan mendidik
Mungkinkah ada kesalahan dalam cara didik orang tua pada anak-anaknya? Adakah pendidikan bertanggung jawab atas peristiwa lempar-melempar tanggung jawab ini? Benarkah generasi kita kurang dididik untuk bertanggungjawab? Atau apakah mendidik remaja adalah perkara tersulit saat ini sehingga wajar jika banyak yang gagal?
Sikap orangtua yang cenderung melindungi anak karena kasih sayang, secara tidak disadari justru membunuh sense of responsibility pada anak. Kalau anak itu masih bayi memang perlu perlindungan ekstra. Tapi apakah perlindungan ini akan diteruskan sampai anak menjelang remaja? Perlukah dilindungi sampai dewasa? Jika anak terlalu dilindingi maka anak akan selalu merasa benar, aman dan terlindungi, bersalah namun termaafkan dan kesalahan akan dilupakan. Gaya hidup serba enak, nyaman dan berkecukupan juga makin mengurangi daya juang dan ketegaran anak. Jadilah yang muncul adalah generasi yang lembek dalam menghadapi kesulitan, sementara justru keras hati dalam menuntut semua harus sesuai dengan apa yang ia inginkan. Generasi instan yang cenderung enggan bersusah payah dan mudah mengeluh. Tuntutan mereka selalu bersifat right here right now. Generasi instan MTV.
Perubahan jaman yang demikian pesat dan maju membuat cara mendidik bergeser. Dulu fasilitas tidak semudah sekarang. Untuk bermain perang-perangan misalnya, anak-anak remaja harus membuat senapan dari batang pohon pisang. Sekarang kalau si Buyung pengin main perang-perangan, dia tinggal minta dibelikan senapan M16 mainan yang ada lampu kelap-kelip dan mengeluarkan suara persis tembakan atau merengek minta dibeliin videogame perang Starwars. Tidak ada usaha dan susah payah untuk ‘membuat senapan’ yang bisa digunakan untuk bermain. Tak ada interaksi individu dengan lingkungan sosial untuk bermain bersama. Akhirnya, kreativitas untuk mencipta jadi berkurang dan individualisme tertanam.
Semua ada ganjarannya
Mendidik remaja untuk bertanggungjawab jaman sekarang sangatlah susah. Apalagi saat mulai menginjak usia remaja yang punya energi meluap-luap tapi kontrol diri sangat lemah. Diperlukan keteguhan hati, kudu tega dan sedini mungkin menggunakan prinsip pendidikan yang benar.
Misalnya, dengan menyuruh para remaja itu untuk menabung sendiri uang jajan mereka jika mereka ingin punya mainan yang diingininya. Dari sini mereka dididik untuk berjuang dahulu sebelum mendapatkan hasil. Dididik bahwa butuh kerja keras untuk meraih keinginan, ada proses yang harus dilalui. Tentunya kita harus mendukungnya dengan mengingatkan akan pentingnya menabung dan memberikan penghargaan jika ternyata hasil tabungan ternyata benar-benar dimanfaatkan dengan baik.
Kalau mereka memecahkan gelas atau merusakkan barang elektronik, harus ada punishment dengan memotong uang jajan selama beberapa waktu, sebagai denda atas kerusakan yang ditimbulkannya. Dari situ remaja dididik untuk bertanggungjawab akibat kesalahannya. Nilai rupiah kerusakannya mungkin tidak berarti bagi kita sebagai orangtua, tapi makna didikan untuk bertanggungjawab mengganti kerusakan amatlah penting bagi remaja. Mereka yang bersalah dan mengakui kesalahan serta menjalani hukuman haruslah dihargai. Tidak boleh lagi mereka ditimpakan penghinaan atau hukuman tambahan yang ia bukan penyebabnya. Tak ada dendam, no heart feeling.
Orangtua juga perlu memberi contoh dengan mengakui kesalahan jika berbuat salah. Sayangnya masih banyak yang beranggapan bahwa meminta maaf kepada anak kecil itu dapat menurunkan gengsi dan pamor orang dewasa. Secara tidak sadar ini sama dengan menanamkan kelicikan dan sikap sok kuasa. Betapa banyak sinetron saat ini dapat ditonton di TV yang menggambarkan gensinya minta maaf dan mudahnya menimpakan kesalahan pada orang lain.
Keimanan sebagai landasan
Kesalahan itu adalah sisi yang manusiawi dari siapapun. Yang lebih utama bukan bagaimana kesalahan tidak terlihat tetapi bagaimana ia tidak terus dalam kesalahan. Menyesali diri dan mau memperbaiki diri, bertanggungjawab atas kerusakan dan menutup kesalahan yang ia perbuat dengan perbuatan yang lebih baik. Inilah realisasi dari taubatan nashuha yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Sungguh citra atau gengsi manusia sebaik apapun di jaga dimata manusia jika ia tidak merupakan citra di mata Allah maka percuma saja. Perbuatan baik yang ditonjol-tonjolkan dan perbuatan salah yang ditutup tutupi itu tidak bisa disembunyikan dari pengawasan Allah yang Maha Melihat. Sifat riya kepada manusia tidak berganjar kecuali neraka. Dan keimanan yang kuat bahwa Allah Maha Melihat lebih dari cukup untuk menahan kita dari lari dari tanggungjawab. (Ars)
Tuesday, May 31, 2005
Negasi Sumbangsih Peradaban Muslim
Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia
Menjalankan syariat Islam harus dilandasi dengan ilmu atasnya, ‘La diinan liman la aqla lahu’. Tanpa pengetahuan maka amal ibadah menjadi sekedar taklid buta, tidak tahu benar atau salahnya. Pentingnya ilmu menjadi sentral dalam ajaran Islam. Dalam Islam, pengetahuan harus didapat dengan kesederhanan dan kerendahan hati. Karena semua ilmu milik Allah semata maka pencarian ilmu harus merupakan upaya untuk menambah ketundukan kepada sang Pencipta bukan malah menjadi kesombongan.
Sikap genuin kerendahan hati inilah yang juga mendasari bangunan peradaban umat Islam. Sebagian besar prinsip Islam dirancang untuk menghacurkan monopoli dan menumbangkan kekuasaan otoriter dan membentuk kesetaraan dan persaudaraan. Penggerak penyebaran peradaban Islam bukan faktor penguasaan wilayah, pemaksaan, perampokan atau monopoli serta keotoriteran. Penyebaran Islam dan prinsip-prinsipnya yang agung menjadi hanyalah soal waktu.
Pada masa Umar bin Khottob kaum muslim sudah menyebarkan Islam dari Libya sampai Afganistan dan dari Armenia sampai Sind dan Gujarat (Pakistan/India). Masa Utsman bin Affan, Islam meluas sampai Spayol dan China. Abad keemasan peradaban muslim dimulai dengan bangkitnya dinasti Abbasiah pada tahun 750 M. Lima abad kekhalifahan Abbasiah melahirkan para jenius Islam.
Penekanan Al Qur’an pada keutamaan mencari ilmu pengetahuan menjadi pendorong dan kekuatan utama masyarakat muslim membangun peradabannya. Pada abad itu sekitar 500 disiplin ilmu pengetahuan telah dipelajari dengan intensif. Menyerap pengetahuan dari peradaban lain seperti peradaban Mesir kuno, Babilonia, Yunani, India, China, dan Persia dengan menterjemahkan naskah-naskah dari peradaban lama tersebut ke dalam bahasa arab.
Kemudian dimulailah kerja panjang penyaringan, analisis, penyerapan, kritik, diskusi dan debat dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembangan ini menemukan momentum lewat ditemukannya media buku pada akhir abad ke-9, setelah kaum muslim mendapatkan cara membuat kertas dari orang China. Saat mesin cetak belum ditemukan Guttenberg peradaban muslim membangun industri pengetahuan dengan memunculkan profesi warraq. Warraq adalah mesin fotocopy berwujud manusia yang mampu menyalin lembaran buku dengan cepat dan akurat. Peran waraq ini sangat besar dalam melancarkan lalu lintas ilmu pengetahuan dan memunculkan para kolektor buku. Para ilmuan yang sekaligus biasa mengkoleksi buku ini kemudian membuat indek materi buku dan menyusun buku-buku agar mudah dicari dan dipelajari. Pemerintah menyediakan anggaran yang cukup untuk membangun perpustakaan besar yang berisi ribuan naskah untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Klasifikasi materi buku-buku di perpustakaan besar memunculkan berbagai karya refferensi dan karya bibliografi. Karya ensiklopedi pertama adalah buatan Ikhwan Ash shafa tahun 983 M tetapi Marshal Cavendish-lah 800 tahun kemudian yang dianggap sebagai penemu ensiklopedia hanya karena ia bangsa barat dan menyusunnya dalam bahasa Inggris. Ilmu pengetahuan yang maju, peradaban yang tinggi dan perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku telah menarik begitu banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia tak terkecuali ilmuan Barat yang sengaja belajar ke pusat-pusat peradaban Islam tersebut. Pada gilirannya para ilmuan Barat yang pulang kembali ke negrinya menjadi sebab munculnya renaisance di Barat.
Peradaban Muslim sebagai Pemicu Renaisance Barat
Renaisace Barat dipicu pertama kali dengan kemunculan teori helio sentris (teori matahari sebagai pusat tatasurya) oleh Galileo menumbangkan pendapat umum geosentris (bumi sebagai tatasurya). Sungguhpun patut diduga Galileo sebenarnya hanyalah mengambil pengetahuan dari ilmuan Muslim seperti Al Battani yang telah menyimpulkan gerak rotasi bumi yang menimbulkan efek gerak semu harian matahari. Atau lima ratus tahun sebelum Galileo menyimpulkan teorinya, Al Biruni dengan teropongnya bahkan sudah mampu membuktikan orbit planet-planet yang mengelilingi matahari bersesuaian dengan gerak rotasinya. Ide helio sentris ini di Barat telah memaksa pandangan gereja yang menyatakan bumi sebagai tatasurya (Geosentris) harus ditinjau ulang. Reaksi pihak gereja yang menghukum Galileo dengan memaksanya minum racun justru menimbulkan simpati pada para ilmuan dan otoritas gereja sebagai sumber kebenaran saat itu menuai badai gugatan. Sejak saat itulah reanaisance bergulir di luar kendali gereja.
Bahwa bangsa Barat yang kristen berhutang sangat besar pada peradaban Muslim adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, namun banyak usaha untuk menyingkirkan, menghapus, melupakan dan menegasikan pengaruhnya dilakukan secara sistematis oleh pihak Barat. Berikut berbagai capaian peradaban tinggi ilmuan muslim dan upaya Barat menegasikan pengaruh ilmuan muslim pada khususnya dan pengaruh peradaban Muslim pada umumnya sehingga tidak lagi tampak dan dihargai sumbangsihnya.
Negasi Pengaruh Ilmuan Muslim oleh Barat
Lembaga universitas atau jam’iyah dan jabatan profesional dalam ilmu adalah temuan muslim. Pengangkatan atau wisuda seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian telah menjadi tradisi sejak didirikan universitas tertua di dunia Al Azhar di Kairo yang menandakan sang murid sudah berhak untuk menjadi muallim (pengajar). Sampai sekarang tradisi mengenakan baju toga saat diwisuda sesungguhnya memang merupakan pakaian khas para muallim Islam zaman dulu. Namun sekarang ilmuan Muslim dianggap ilmuan kelas dua karena diragukan tingkat objektifitas keilmuannya, diragukan keilmiahannya hanya karena masih menganut Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab rujukannya.
Methode ilmiah adalah sumbangan peradaban Islam terbesar pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam laporan laboratorium Al Battani (w.929M), Al Biruni (w.1048M) dan Ibnu Haitsam (w.1039M), kita bisa jumpai penjelasan dan penggunaan methode tersebut. Tapi yang dianggap penemu methode ilmiah adalah Roger Bacon karena ia mensekulerkan ilmu pengetahuan dengan methode ilmiah tersebut.
Di bidang matematika, Al Khwarizmi (w.850) menemukan algoritma (diambil dari namanya) dan aljabar (dari judul bukunya Kitab Al Jabr wa Al Muqobbala), 300 tahun kemudian dunia Barat mengenal angka nol dan mengadopsi angka arab dan meninggalkan sistem angka romawi yang rumit. Sunguhpun kini aljabar dan algoritma wajib diajarkan, tak ada sejarah yang diajarkan di kelas sekedar menuliskan nama Al Khwarizmi sebagai penghormatan.
Di bidang karya sastra, dongeng Alf laila wa lailah (kisah seribu satu malam) sebenarnya bukan mahakarya sastra, meskipun diakui sebagai karya seni dengan kreatifitas isinya yang tinggi, tetapi salah satu tokohnya Abu Nawas (w.810) lebih terkenal karena anekdot dan kelucuannya dari pada filsafat dan kearifannya. Ibnu Thufail (w.1185) adalah pengarang novel-novel filsafat yang paling dini. Karyanya Risalah Hayy Ibnu Yaqzan (Kehidupan Ibnu Yaqzan) banyak dijiplak dan cerita Robinson Crusoe karya Dafoe adalah adalah tiruan rasis darinya. Tentu saja Dafoe yang lebih terkenal di dunia sastra Barat.
Model orbit planet Copernicus yang kemudian dirumuskan dengan baik oleh Kelpler dalam Hukum Kepler I, II dan III sejatinya telah dihasilkan dari laboratorium di Maraga oleh ilmuan seperti Al Tusi (w.1274 M) yang kemudian diteruskan oleh Ibnu Asy Syatir (w.1375 M) di Damaskus.
Ibnu Al Haytsam (w.1039 M) mempelopori penelitian tentang optika. Eksperimennya menggunakan lebih dari 27 jenis lensa. Roger Bacon, Leonardo da Vinci dan Kepler bahkan mungkin Newton telah mengambil inspirasi bahkan menjiplak dari bukunya Kitab Al Manazhir (Kamus Optik). Sebab teori tentang mata yang bukan sumber cahaya (mirip kesimpulan Newton yang menggugurkan pendapat Euclid dan Ptolomy), hukum refleksi dan refraksi (yang lebih terkenal dengan hukum Snellius) serta pertambahan ukuran bintang dekat zenith sesungguhnya telah dirumuskan dengan baik oleh Ibnu Al Haytsam lewat berbagai eksperimennya.
Belum lagi ilmu kedokteran. Dunia patut berterimakasih pada Ibnu Sina (lidah bangsa Barat menyebutnya dengan Ave Sena) yang telah menulis Kitab Qanun fi At Tibb yang berisi berbagai jenis penyakit dan pegobatannya secara komprehensif. Buku tersebut menjadi acuan selama beberapa abad kemudian dan diajarkan kepada seluruh calon-calon dokter pada saat itu. Sampai akhir abad ke-19 tingginya ilmu pengetahuan kedokteran sumbangsih para dokter muslim terlihat saat para calon dokter di Prancis harus mendapatkan surat izin praktek dari Kepala Dokter Muslim di Tunisia. Tapi kemudian pemerintah kolonial Prancis melarang keras tindakan tersebut. Eropa berusaha menghapuskannya dengan alasan mengangapnya rendah hanya karena dokter mereka harus merunduk ke Tunisia yang Islam.
Hancurnya Pusat Peradaban Muslim di Baghdad dan Granada
Kota Baghdad sebagai pusat peradaban Islam di timur menjelang keruntuhannya merupakan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayangnya banyak pejabat pemerintahan yang nepotis, korup dan tidak lagi mempunyai kedisiplinan yang tinggi serta digerogoti intrik politik perebutan kekuasaan telah melemahkan sendi-sendi kekuatan pemerintahan. Pasukan muslim yang terus menyebar ke berbagai penjuru dunia justru melemah di pusat pemerintahan.
Pada tahun 1258 M kelemahan ini terbaca oleh pemimpin pasukan suku barbar dari Mongol Hulaghu Khan cucu keturunan Kubilay Khan yang ahli menggendarai kuda. Dengan strategi menyerang dengan cepat dan ganas menggunakan pasukan berkuda langsung menuju pusat kota dan menghancurkan apa saja yang di temui, Hulaghu berhasil menaklukkan pemerintahan Baghdad yang memang sudah keropos. Konon sejarah menuliskan bagaimana darah pembantaian membasahi sepanjang jalan-jalan kota Baghdad. Juga bagaimana gedung perbendaharaan dijarah lalu dibakar tak terkecuali ribuan buku-buku perpustakaan yang terkumpul berabad-abad dibakar dan dibuang di sungai di kota Baghdad sehingga airnya berubah menjadi hitam karena tercemar tinta selama berhari-hari. Selanjutnya kehancuran kota Baghdad sebagai pusat peradaban menjadi awal sejarah kelam kemunduran peradaban Islam. (Dan sejarah kelam ini berulang saat pendudukan pasukan Amerika dan sekutunya di Baghdad saat ini?).
Kerajaan Muslim di Eropa pada masa kejayaannya juga mempunyai permasalahan yang sama. Kemakmuran yang melimpah membuat gaya hidup bermewah-mewahan para penguasanya. Pasukan Muslim kehilangan kekuatannya karena intrik politik dan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Tahun 1492 M pusat kekhalifahan Muslim di Eropa yang dipimpin oleh Boadbil pangeran Moor dari Granada di Spanyol kalah dalam perang salib dan berlutut dihadapan pemimpin pasukan salib King Ferdinand. Saat itu ribuan umat Islam dibantai (ethnic cleansing) oleh pasukan salibis dan diusir dengan perlakuan lebih kejam dari pada yang diterima Yahudi. Kejayaan kerajaan Muslim 800 tahun di Eropa dimusnahkan sampai tidak tersisa sama sekali kecuali tinggal bekas-bekas dan kisahnya saja. Dan umat Islam di Eropa khususnya di Spayol kini tinggal minoritas yang tidak lagi berpengaruh.
Strategi Kolonialisasi dan Imperialisasi Barat
Untuk menaklukkan negri lain Barat tidak hanya membutuhkan kekuatan senjata dan jumlah pasukan yang banyak. Untuk itu dikobarkanlah Perang Salib atau Crusade untuk menjadi alasan suci mereka menyerang dan menghancurkan negri-negri musuh yang Islam agar mereka dapat menyebarkan injil keseluruh penjuru dunia. Diperlukan pula alasan yang dapat membenarkan untuk menjajah dan dengan berdalih bahwa Barat memiliki peradaban maju dan Timur adalah bangsa biadab maka Prancis, Inggris dan Belanda sukses menanamkan kekuasaannya dengan menyebarkan mental inferioritas jajahan dan superioritas penjajah. Strategi penjajah dengan memecah-belah wilayah dengan adu domba kemudian dikuasai sedikit demi sedikit diterapkan di Mesir, India sampai di Indonesia. Strategi militer mereka menghalalkan segala cara dan penuh kelicikan serta penciptaan ketakutan dengan menyebar teror kekejaman kepada negri penentang.
Fourier menuliskan ekspedisi Napoleon yang memimpin pasukan Prancis sebagai berikut: ‘Orang teringat akan kesan yang timbul di seluruh Eropa oleh berita yang mencengangkan bahwa Prancis telah menginjakkan kaki di Timur… Proyek raksasa ini direncanakan dengan diam-diam dan dipersiapkan dengan kegiatan dan kerahasiaan yang sedemikian rupa sehingga kewaspadaan musuh kita terkecoh… Negri (Mesir) yang telah memindahkan ilmu pengetahuannya kepada begitu banyak bangsa lain ini sekarang telah tenggelam (hancur) dalam kebiadaban…’
Arogansi dan Hipokrasi Barat
Sebagai bangsa yang cepat perkembangan industrinya karena ditopang imperialisme yang merampok bahan baku dari negri jajahan, bangsa Barat memandang Timur (Islam) dengan sebelah mata. Sikap arogan ini menjadi wajar mengingat masa sebelumnya mereka bangsa tertinggal dan kemudian bangkit dan berhadapan dengan peradaban lama dengan semangat kedengkian. Dengan semangat inilah maka banyak ‘pencuri peradaban’ tiba-tiba mengaku sebagai penciptanya. Sikap hipokrit ini termasuk di dalamnya dengan penjiplakan karya ilmuan muslim secara diam-diam kemudian mengakuinya sebagai karya sendiri. Mereka lebih suka berpura-pura berpaling ke Yunani sebagai sumber peradaban mereka sambil berdalih untuk mengingkari pengaruh peradaban Islam. Mereka lebih menghargai pendapat Aristoteles atau Plato misalnya dari pada Ibnu Rursd (yang dibaca Ave Rose oleh lidah Barat) yang mampu membantah pandangan filosofisnya.
Mereka menyanjung Markopolo sebagai penjelajah dunia Timur meskipun banyak jalan yang dilalui Markopolo telah dirintis oleh Sinbad sang pelaut Muslim zaman Abbasiah. Dan penjelajahan laut dengan kapal seperti yang dilakukan Markolopo tak akan terjadi tanpa menggunakan astrolab planisferis temuan Al Fazari (w.790 M) yang dapat menentukan lokasi dengan tepat lewat kedudukan rasi bintang sebagai penunjuk jalan.
Bungkusan Orentalisme
Oreintalisme diciptakan awalnya untuk mempelajari dunia timur oleh pendeta-pendeta Barat. Tentu dengan presepsi negatif karena Islam dipandang sebagai musuh mereka, terutama musuh agama mereka. Pada kenyataannya orientalisme secara sepihak mendefinisikan segala hal dari Timur (Oriental) dengan cara Barat agar Barat dapat mempelajarinya dan akhirnya dapat menguasainya. Menurut Edward Said dalam bukunya The Orientalism, bahwa pada dasarnya orientalisme merupakan satu doktrin politis yag ditetapkan terhadap Timur karena (saat itu) Timur lebih lemah dari pada Barat.
Dengan berdalih objektifitas maka Barat dengan leluasa memberikan penafsiran bebas nilai, bebas maksud (bahkan hanya berdasarkan sentimen yang ngawur) dengan tidak menganggap Timur sebagai subyek yang punya suara dan pendapat terhadap diri sendiri. Sering dengan penyederhanaan yang gegabah dan terminologi yang di paksakan, Barat telah memandang Timur dengan salah dan dengan sangat merendahkan penuh fitnah. Seribu satu cara digunakan untuk mendiskreditkan Islam dan umatnya. Diperkirakan sekitar 60 ribu buku tentang Timur telah ditulis antara tahun 1800 sampai dengan 1950 yang dapat menjustifikasi betapa Barat berusaha menguasai seluk beluk Timur yang benar dan salahnya menurut kacamata mereka sendiri.
Dewasa ini orientalisme berkembang sedemikian rupa hingga diterbitkannya buku dari model mengolok nabi Muhammad SAW dengan fitnah seperti Satanic Versesnya Salman Rushdie yang jika ditilik pada sejarah, karya ini mirip Book of Daniel karangan Paul Alvarus (w.859 M), ataupun sikap kecurigaan dan kehawatiran model Islamic Invasion atau The Clash of Civilization karya Samuel P Huttington dan yang terbaru kritikan pedas model Islam Unveiled atau Islam ditelanjangi karya Robert Spencer.
Demikian banyak upaya Barat dari dulu sampai sekarang berusaha menghapuskan kecemerlangan Islam. Namun demikian mereka tidak akan pernah benar-benar bisa memadamkan api itu dan suatu saat nanti api kecemerlangan itu akan timbul kembali bersama dengan kebangkitan umat Islam yang kita tunggu-tunggu.(Ars)
Refferensi:
·Edward Said; The Orientalism, Pustaka, 1996
·Mahdi Gulsyani; Filsafat Sain Menurut Al Qur’an, Mizan, 1998
·Robert Spencer; Islam Ditelanjangi, Paramadina, 2002
·Ziauddin Sardar; Mengenal Islam for Beginner, Mizan, 1998
Menjalankan syariat Islam harus dilandasi dengan ilmu atasnya, ‘La diinan liman la aqla lahu’. Tanpa pengetahuan maka amal ibadah menjadi sekedar taklid buta, tidak tahu benar atau salahnya. Pentingnya ilmu menjadi sentral dalam ajaran Islam. Dalam Islam, pengetahuan harus didapat dengan kesederhanan dan kerendahan hati. Karena semua ilmu milik Allah semata maka pencarian ilmu harus merupakan upaya untuk menambah ketundukan kepada sang Pencipta bukan malah menjadi kesombongan.
Sikap genuin kerendahan hati inilah yang juga mendasari bangunan peradaban umat Islam. Sebagian besar prinsip Islam dirancang untuk menghacurkan monopoli dan menumbangkan kekuasaan otoriter dan membentuk kesetaraan dan persaudaraan. Penggerak penyebaran peradaban Islam bukan faktor penguasaan wilayah, pemaksaan, perampokan atau monopoli serta keotoriteran. Penyebaran Islam dan prinsip-prinsipnya yang agung menjadi hanyalah soal waktu.
Pada masa Umar bin Khottob kaum muslim sudah menyebarkan Islam dari Libya sampai Afganistan dan dari Armenia sampai Sind dan Gujarat (Pakistan/India). Masa Utsman bin Affan, Islam meluas sampai Spayol dan China. Abad keemasan peradaban muslim dimulai dengan bangkitnya dinasti Abbasiah pada tahun 750 M. Lima abad kekhalifahan Abbasiah melahirkan para jenius Islam.
Penekanan Al Qur’an pada keutamaan mencari ilmu pengetahuan menjadi pendorong dan kekuatan utama masyarakat muslim membangun peradabannya. Pada abad itu sekitar 500 disiplin ilmu pengetahuan telah dipelajari dengan intensif. Menyerap pengetahuan dari peradaban lain seperti peradaban Mesir kuno, Babilonia, Yunani, India, China, dan Persia dengan menterjemahkan naskah-naskah dari peradaban lama tersebut ke dalam bahasa arab.
Kemudian dimulailah kerja panjang penyaringan, analisis, penyerapan, kritik, diskusi dan debat dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembangan ini menemukan momentum lewat ditemukannya media buku pada akhir abad ke-9, setelah kaum muslim mendapatkan cara membuat kertas dari orang China. Saat mesin cetak belum ditemukan Guttenberg peradaban muslim membangun industri pengetahuan dengan memunculkan profesi warraq. Warraq adalah mesin fotocopy berwujud manusia yang mampu menyalin lembaran buku dengan cepat dan akurat. Peran waraq ini sangat besar dalam melancarkan lalu lintas ilmu pengetahuan dan memunculkan para kolektor buku. Para ilmuan yang sekaligus biasa mengkoleksi buku ini kemudian membuat indek materi buku dan menyusun buku-buku agar mudah dicari dan dipelajari. Pemerintah menyediakan anggaran yang cukup untuk membangun perpustakaan besar yang berisi ribuan naskah untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Klasifikasi materi buku-buku di perpustakaan besar memunculkan berbagai karya refferensi dan karya bibliografi. Karya ensiklopedi pertama adalah buatan Ikhwan Ash shafa tahun 983 M tetapi Marshal Cavendish-lah 800 tahun kemudian yang dianggap sebagai penemu ensiklopedia hanya karena ia bangsa barat dan menyusunnya dalam bahasa Inggris. Ilmu pengetahuan yang maju, peradaban yang tinggi dan perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku telah menarik begitu banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia tak terkecuali ilmuan Barat yang sengaja belajar ke pusat-pusat peradaban Islam tersebut. Pada gilirannya para ilmuan Barat yang pulang kembali ke negrinya menjadi sebab munculnya renaisance di Barat.
Peradaban Muslim sebagai Pemicu Renaisance Barat
Renaisace Barat dipicu pertama kali dengan kemunculan teori helio sentris (teori matahari sebagai pusat tatasurya) oleh Galileo menumbangkan pendapat umum geosentris (bumi sebagai tatasurya). Sungguhpun patut diduga Galileo sebenarnya hanyalah mengambil pengetahuan dari ilmuan Muslim seperti Al Battani yang telah menyimpulkan gerak rotasi bumi yang menimbulkan efek gerak semu harian matahari. Atau lima ratus tahun sebelum Galileo menyimpulkan teorinya, Al Biruni dengan teropongnya bahkan sudah mampu membuktikan orbit planet-planet yang mengelilingi matahari bersesuaian dengan gerak rotasinya. Ide helio sentris ini di Barat telah memaksa pandangan gereja yang menyatakan bumi sebagai tatasurya (Geosentris) harus ditinjau ulang. Reaksi pihak gereja yang menghukum Galileo dengan memaksanya minum racun justru menimbulkan simpati pada para ilmuan dan otoritas gereja sebagai sumber kebenaran saat itu menuai badai gugatan. Sejak saat itulah reanaisance bergulir di luar kendali gereja.
Bahwa bangsa Barat yang kristen berhutang sangat besar pada peradaban Muslim adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, namun banyak usaha untuk menyingkirkan, menghapus, melupakan dan menegasikan pengaruhnya dilakukan secara sistematis oleh pihak Barat. Berikut berbagai capaian peradaban tinggi ilmuan muslim dan upaya Barat menegasikan pengaruh ilmuan muslim pada khususnya dan pengaruh peradaban Muslim pada umumnya sehingga tidak lagi tampak dan dihargai sumbangsihnya.
Negasi Pengaruh Ilmuan Muslim oleh Barat
Lembaga universitas atau jam’iyah dan jabatan profesional dalam ilmu adalah temuan muslim. Pengangkatan atau wisuda seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian telah menjadi tradisi sejak didirikan universitas tertua di dunia Al Azhar di Kairo yang menandakan sang murid sudah berhak untuk menjadi muallim (pengajar). Sampai sekarang tradisi mengenakan baju toga saat diwisuda sesungguhnya memang merupakan pakaian khas para muallim Islam zaman dulu. Namun sekarang ilmuan Muslim dianggap ilmuan kelas dua karena diragukan tingkat objektifitas keilmuannya, diragukan keilmiahannya hanya karena masih menganut Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab rujukannya.
Methode ilmiah adalah sumbangan peradaban Islam terbesar pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam laporan laboratorium Al Battani (w.929M), Al Biruni (w.1048M) dan Ibnu Haitsam (w.1039M), kita bisa jumpai penjelasan dan penggunaan methode tersebut. Tapi yang dianggap penemu methode ilmiah adalah Roger Bacon karena ia mensekulerkan ilmu pengetahuan dengan methode ilmiah tersebut.
Di bidang matematika, Al Khwarizmi (w.850) menemukan algoritma (diambil dari namanya) dan aljabar (dari judul bukunya Kitab Al Jabr wa Al Muqobbala), 300 tahun kemudian dunia Barat mengenal angka nol dan mengadopsi angka arab dan meninggalkan sistem angka romawi yang rumit. Sunguhpun kini aljabar dan algoritma wajib diajarkan, tak ada sejarah yang diajarkan di kelas sekedar menuliskan nama Al Khwarizmi sebagai penghormatan.
Di bidang karya sastra, dongeng Alf laila wa lailah (kisah seribu satu malam) sebenarnya bukan mahakarya sastra, meskipun diakui sebagai karya seni dengan kreatifitas isinya yang tinggi, tetapi salah satu tokohnya Abu Nawas (w.810) lebih terkenal karena anekdot dan kelucuannya dari pada filsafat dan kearifannya. Ibnu Thufail (w.1185) adalah pengarang novel-novel filsafat yang paling dini. Karyanya Risalah Hayy Ibnu Yaqzan (Kehidupan Ibnu Yaqzan) banyak dijiplak dan cerita Robinson Crusoe karya Dafoe adalah adalah tiruan rasis darinya. Tentu saja Dafoe yang lebih terkenal di dunia sastra Barat.
Model orbit planet Copernicus yang kemudian dirumuskan dengan baik oleh Kelpler dalam Hukum Kepler I, II dan III sejatinya telah dihasilkan dari laboratorium di Maraga oleh ilmuan seperti Al Tusi (w.1274 M) yang kemudian diteruskan oleh Ibnu Asy Syatir (w.1375 M) di Damaskus.
Ibnu Al Haytsam (w.1039 M) mempelopori penelitian tentang optika. Eksperimennya menggunakan lebih dari 27 jenis lensa. Roger Bacon, Leonardo da Vinci dan Kepler bahkan mungkin Newton telah mengambil inspirasi bahkan menjiplak dari bukunya Kitab Al Manazhir (Kamus Optik). Sebab teori tentang mata yang bukan sumber cahaya (mirip kesimpulan Newton yang menggugurkan pendapat Euclid dan Ptolomy), hukum refleksi dan refraksi (yang lebih terkenal dengan hukum Snellius) serta pertambahan ukuran bintang dekat zenith sesungguhnya telah dirumuskan dengan baik oleh Ibnu Al Haytsam lewat berbagai eksperimennya.
Belum lagi ilmu kedokteran. Dunia patut berterimakasih pada Ibnu Sina (lidah bangsa Barat menyebutnya dengan Ave Sena) yang telah menulis Kitab Qanun fi At Tibb yang berisi berbagai jenis penyakit dan pegobatannya secara komprehensif. Buku tersebut menjadi acuan selama beberapa abad kemudian dan diajarkan kepada seluruh calon-calon dokter pada saat itu. Sampai akhir abad ke-19 tingginya ilmu pengetahuan kedokteran sumbangsih para dokter muslim terlihat saat para calon dokter di Prancis harus mendapatkan surat izin praktek dari Kepala Dokter Muslim di Tunisia. Tapi kemudian pemerintah kolonial Prancis melarang keras tindakan tersebut. Eropa berusaha menghapuskannya dengan alasan mengangapnya rendah hanya karena dokter mereka harus merunduk ke Tunisia yang Islam.
Hancurnya Pusat Peradaban Muslim di Baghdad dan Granada
Kota Baghdad sebagai pusat peradaban Islam di timur menjelang keruntuhannya merupakan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayangnya banyak pejabat pemerintahan yang nepotis, korup dan tidak lagi mempunyai kedisiplinan yang tinggi serta digerogoti intrik politik perebutan kekuasaan telah melemahkan sendi-sendi kekuatan pemerintahan. Pasukan muslim yang terus menyebar ke berbagai penjuru dunia justru melemah di pusat pemerintahan.
Pada tahun 1258 M kelemahan ini terbaca oleh pemimpin pasukan suku barbar dari Mongol Hulaghu Khan cucu keturunan Kubilay Khan yang ahli menggendarai kuda. Dengan strategi menyerang dengan cepat dan ganas menggunakan pasukan berkuda langsung menuju pusat kota dan menghancurkan apa saja yang di temui, Hulaghu berhasil menaklukkan pemerintahan Baghdad yang memang sudah keropos. Konon sejarah menuliskan bagaimana darah pembantaian membasahi sepanjang jalan-jalan kota Baghdad. Juga bagaimana gedung perbendaharaan dijarah lalu dibakar tak terkecuali ribuan buku-buku perpustakaan yang terkumpul berabad-abad dibakar dan dibuang di sungai di kota Baghdad sehingga airnya berubah menjadi hitam karena tercemar tinta selama berhari-hari. Selanjutnya kehancuran kota Baghdad sebagai pusat peradaban menjadi awal sejarah kelam kemunduran peradaban Islam. (Dan sejarah kelam ini berulang saat pendudukan pasukan Amerika dan sekutunya di Baghdad saat ini?).
Kerajaan Muslim di Eropa pada masa kejayaannya juga mempunyai permasalahan yang sama. Kemakmuran yang melimpah membuat gaya hidup bermewah-mewahan para penguasanya. Pasukan Muslim kehilangan kekuatannya karena intrik politik dan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Tahun 1492 M pusat kekhalifahan Muslim di Eropa yang dipimpin oleh Boadbil pangeran Moor dari Granada di Spanyol kalah dalam perang salib dan berlutut dihadapan pemimpin pasukan salib King Ferdinand. Saat itu ribuan umat Islam dibantai (ethnic cleansing) oleh pasukan salibis dan diusir dengan perlakuan lebih kejam dari pada yang diterima Yahudi. Kejayaan kerajaan Muslim 800 tahun di Eropa dimusnahkan sampai tidak tersisa sama sekali kecuali tinggal bekas-bekas dan kisahnya saja. Dan umat Islam di Eropa khususnya di Spayol kini tinggal minoritas yang tidak lagi berpengaruh.
Strategi Kolonialisasi dan Imperialisasi Barat
Untuk menaklukkan negri lain Barat tidak hanya membutuhkan kekuatan senjata dan jumlah pasukan yang banyak. Untuk itu dikobarkanlah Perang Salib atau Crusade untuk menjadi alasan suci mereka menyerang dan menghancurkan negri-negri musuh yang Islam agar mereka dapat menyebarkan injil keseluruh penjuru dunia. Diperlukan pula alasan yang dapat membenarkan untuk menjajah dan dengan berdalih bahwa Barat memiliki peradaban maju dan Timur adalah bangsa biadab maka Prancis, Inggris dan Belanda sukses menanamkan kekuasaannya dengan menyebarkan mental inferioritas jajahan dan superioritas penjajah. Strategi penjajah dengan memecah-belah wilayah dengan adu domba kemudian dikuasai sedikit demi sedikit diterapkan di Mesir, India sampai di Indonesia. Strategi militer mereka menghalalkan segala cara dan penuh kelicikan serta penciptaan ketakutan dengan menyebar teror kekejaman kepada negri penentang.
Fourier menuliskan ekspedisi Napoleon yang memimpin pasukan Prancis sebagai berikut: ‘Orang teringat akan kesan yang timbul di seluruh Eropa oleh berita yang mencengangkan bahwa Prancis telah menginjakkan kaki di Timur… Proyek raksasa ini direncanakan dengan diam-diam dan dipersiapkan dengan kegiatan dan kerahasiaan yang sedemikian rupa sehingga kewaspadaan musuh kita terkecoh… Negri (Mesir) yang telah memindahkan ilmu pengetahuannya kepada begitu banyak bangsa lain ini sekarang telah tenggelam (hancur) dalam kebiadaban…’
Arogansi dan Hipokrasi Barat
Sebagai bangsa yang cepat perkembangan industrinya karena ditopang imperialisme yang merampok bahan baku dari negri jajahan, bangsa Barat memandang Timur (Islam) dengan sebelah mata. Sikap arogan ini menjadi wajar mengingat masa sebelumnya mereka bangsa tertinggal dan kemudian bangkit dan berhadapan dengan peradaban lama dengan semangat kedengkian. Dengan semangat inilah maka banyak ‘pencuri peradaban’ tiba-tiba mengaku sebagai penciptanya. Sikap hipokrit ini termasuk di dalamnya dengan penjiplakan karya ilmuan muslim secara diam-diam kemudian mengakuinya sebagai karya sendiri. Mereka lebih suka berpura-pura berpaling ke Yunani sebagai sumber peradaban mereka sambil berdalih untuk mengingkari pengaruh peradaban Islam. Mereka lebih menghargai pendapat Aristoteles atau Plato misalnya dari pada Ibnu Rursd (yang dibaca Ave Rose oleh lidah Barat) yang mampu membantah pandangan filosofisnya.
Mereka menyanjung Markopolo sebagai penjelajah dunia Timur meskipun banyak jalan yang dilalui Markopolo telah dirintis oleh Sinbad sang pelaut Muslim zaman Abbasiah. Dan penjelajahan laut dengan kapal seperti yang dilakukan Markolopo tak akan terjadi tanpa menggunakan astrolab planisferis temuan Al Fazari (w.790 M) yang dapat menentukan lokasi dengan tepat lewat kedudukan rasi bintang sebagai penunjuk jalan.
Bungkusan Orentalisme
Oreintalisme diciptakan awalnya untuk mempelajari dunia timur oleh pendeta-pendeta Barat. Tentu dengan presepsi negatif karena Islam dipandang sebagai musuh mereka, terutama musuh agama mereka. Pada kenyataannya orientalisme secara sepihak mendefinisikan segala hal dari Timur (Oriental) dengan cara Barat agar Barat dapat mempelajarinya dan akhirnya dapat menguasainya. Menurut Edward Said dalam bukunya The Orientalism, bahwa pada dasarnya orientalisme merupakan satu doktrin politis yag ditetapkan terhadap Timur karena (saat itu) Timur lebih lemah dari pada Barat.
Dengan berdalih objektifitas maka Barat dengan leluasa memberikan penafsiran bebas nilai, bebas maksud (bahkan hanya berdasarkan sentimen yang ngawur) dengan tidak menganggap Timur sebagai subyek yang punya suara dan pendapat terhadap diri sendiri. Sering dengan penyederhanaan yang gegabah dan terminologi yang di paksakan, Barat telah memandang Timur dengan salah dan dengan sangat merendahkan penuh fitnah. Seribu satu cara digunakan untuk mendiskreditkan Islam dan umatnya. Diperkirakan sekitar 60 ribu buku tentang Timur telah ditulis antara tahun 1800 sampai dengan 1950 yang dapat menjustifikasi betapa Barat berusaha menguasai seluk beluk Timur yang benar dan salahnya menurut kacamata mereka sendiri.
Dewasa ini orientalisme berkembang sedemikian rupa hingga diterbitkannya buku dari model mengolok nabi Muhammad SAW dengan fitnah seperti Satanic Versesnya Salman Rushdie yang jika ditilik pada sejarah, karya ini mirip Book of Daniel karangan Paul Alvarus (w.859 M), ataupun sikap kecurigaan dan kehawatiran model Islamic Invasion atau The Clash of Civilization karya Samuel P Huttington dan yang terbaru kritikan pedas model Islam Unveiled atau Islam ditelanjangi karya Robert Spencer.
Demikian banyak upaya Barat dari dulu sampai sekarang berusaha menghapuskan kecemerlangan Islam. Namun demikian mereka tidak akan pernah benar-benar bisa memadamkan api itu dan suatu saat nanti api kecemerlangan itu akan timbul kembali bersama dengan kebangkitan umat Islam yang kita tunggu-tunggu.(Ars)
Refferensi:
·Edward Said; The Orientalism, Pustaka, 1996
·Mahdi Gulsyani; Filsafat Sain Menurut Al Qur’an, Mizan, 1998
·Robert Spencer; Islam Ditelanjangi, Paramadina, 2002
·Ziauddin Sardar; Mengenal Islam for Beginner, Mizan, 1998
Subscribe to:
Posts (Atom)